ZONAUTARA.com – Kejaksaan Agung (Kejagung) telah memulai penyelidikan terhadap 10 perusahaan sawit yang dilaporkan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, atas dugaan manipulasi harga atau transfer pricing pada kegiatan ekspor. Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Syarief Sulaeman Nahdi, mengonfirmasi status kasus ini sebagai penyidikan umum. “Perkara manipulasi atau transfer pricing itu kita sekarang sedang melakukan penyidikan. Penyidikan,” ujar Syarief kepada wartawan, dikutip Selasa (26/5).
Syarief menjelaskan bahwa data yang diserahkan oleh Purbaya ini akan melengkapi data-data yang telah dimiliki oleh Korps Adhyaksa terkait perusahaan-perusahaan yang dicurigai melakukan pelanggaran. “Itu sekitar mungkin satu bulan lebih. Ada data dari Menteri, itu melengkapi data yang ada,” tuturnya.
Sebelumnya, dalam pernyataan di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (25/5), Purbaya menyebut bahwa pemerintah mengantongi nama 10 perusahaan besar di sektor kelapa sawit yang diduga melakukan manipulasi nilai ekspor atau under-invoicing dalam perdagangan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Ia menjelaskan bahwa temuan ini berasal dari sampel acak dari perusahaan-perusahaan eksportir terbesar di sektor sawit. “Saya ambil 10 terbesar. Semuanya melakukan hal itu. Jadi boleh dipastikan semuanya melakukan hal itu jadinya. Saya random nih,” kata Purbaya.
Purbaya menambahkan, data yang sudah diserahkan kepada aparat penegak hukum merupakan sebagian kecil sampel pemeriksaan dan potensi nilai kerugian sebenarnya bisa lebih besar. “Dari yang itu saja, dari yang sampel yang kita kasih ke KPK. Kalau dari semuanya kan, ya pasti lebih besar. Karena kan saya hanya sedikit saja (ambil sample-nya),” ujarnya.
Bendahara Negara ini juga mengonfirmasi bahwa dugaan kerugian dari sampel yang diperiksa mencapai sekitar US$84 juta. Menurut dia, jumlah ini berasal dari sampel kecil pemeriksaan pemerintah terhadap sejumlah transaksi ekspor, dan angka tersebut bisa lebih tinggi jika praktik serupa ditemukan pada semua transaksi perusahaan terkait. “Kalau semua, iya. Kira-kira. Itu kan cuma sample. Yang di-sample segitu. Kalau di-random hasilnya seperti itu, 10 perusahaan seperti itu, ya kira-kira dia melakukan itu untuk semuanya kira-kira (angka kerugian lebih dari US$84 juta),” tutupnya.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

