ZONAUTARA.com – Pada 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,3 mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, menewaskan 6.234 orang dan menjadi gempa terbesar kedua di Indonesia setelah tsunami Aceh 2004. Pusat gempa berada di wilayah Bantul, tepatnya di sekitar pertemuan Sungai Opak dan Sungai Oya. Aktivitas Sesar Opak dan pergerakan tektonik antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia menjadi penyebab utama bencana ini.
Ningsih, seorang mahasiswa di Yogyakarta saat itu, mengenang momen mengerikan ketika gempa menggoyang bangunan kos pada pukul 05.54 WIB. “Lagi goler-goleran, tiba-tiba goyang hebat. Badan kepontang-panting kencang,” ujarnya kepada CNBC Indonesia pada 26 Mei 2026.
Kepanikan semakin meluas dengan beredarnya isu tsunami, meskipun informasi itu belum terbukti benar. Ribuan warga bergegas meninggalkan rumah menuju tempat aman, bahkan mobil kecil bisa diisi hingga 12 orang. “Di situ aku saksi mata,” tambahnya.
Setelah gempa utama, ratusan gempa susulan terjadi, dengan 176 di antaranya dapat dirasakan masyarakat pada hari yang sama. Para peneliti mengonfirmasi bahwa gempa ini berkaitan dengan aktivitas Sesar Opak yang sebelumnya tidak aktif dalam waktu lama.
Saat itu, ketakutan masyarakat semakin meningkat ketika muncul kabar keliru mengenai erupsi Gunung Merapi, menambah kepanikan yang sudah disebabkan oleh gempa dan isu tsunami.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

