ZONAUTARA.com – Banjir yang menerjang Desa Solimandungan Dua, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, pada Rabu, 27 Mei 2026, disebut menjadi yang terparah dibanding peristiwa serupa yang pernah terjadi puluhan tahun lalu.
Suito Mokoginta (58), tokoh adat setempat, mengaku pernah melihat dan merasakan langsung peristiwa banjir besar pada tahun 1981 saat dirinya masih remaja. Namun menurutnya, dampak banjir kali ini jauh lebih buruk.
“Tahun 1981 pernah juga banjir material koral dari gunung karena longsor. Waktu itu sampai ada dua rumah hanyut. Tapi sekarang ini lebih parah,” kata Suito saat ditemui di lokasi banjir, Kamis, (28/05/2026).
Ia mengatakan, derasnya arus banjir turut menyeret material kayu dari wilayah pegunungan. Menurutnya, kayu-kayu tersebut diduga berasal dari kawasan hutan produksi dan tanaman jati.
“Kayaknya pohon jati, tanaman jati. Tapi itu hutan produksi,” ujarnya.
Meski demikian, Suito menegaskan masyarakat desa memiliki aturan ketat untuk mencegah praktik penebangan liar di wilayah pegunungan yang memiliki kemiringan ekstrem.
“Kalau ada illegal logging, ada perdes, linmas, dan lembaga adat yang akan turun. Karena kemiringan sampai 90 derajat, tidak boleh ada illegal logging,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pengawasan warga terhadap kawasan hutan selama ini cukup ketat. Bahkan warga luar yang hendak mencari ikan di malam hari wajib melapor kepada aparat dusun.
“Kalau ada yang cari ikan malam, ikan ekor putih, harus meninggalkan KTP di kepala dusun,” katanya.
Suito juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi cuaca ekstrem, termasuk memastikan pintu air tetap terbuka dan alat berat siaga ketika hujan deras terjadi.
“Pintu air harus terbuka. Misalnya hujan, harus ada alat berat standby,” ujarnya.
Sebagai tokoh adat, Suito mengaku memiliki harapan pribadi agar dilakukan normalisasi Sungai Botuk yang disebut menjadi jalur utama luapan banjir.
“Harapan saya normalisasi Sungai Botuk,” katanya.
Namun, ia menegaskan kebutuhan dan harapan utama warga secara umum nantinya akan dirumuskan melalui rapat pemerintah desa bersama masyarakat setelah proses penanganan lumpur selesai dilakukan.
Menurut dia, rapat tersebut biasanya menjadi forum untuk menentukan apa saja kebutuhan paling mendesak yang benar-benar diperlukan warga pascabencana.
“Nanti selesai penanggulangan lumpur, sangadi akan rapat lagi. Dari situ baru dirumuskan sebenarnya apa yang paling diharapkan dan diperlukan warga,” ujarnya.
Di tengah situasi bencana, Suito juga sempat menjadi panitia penyaluran bantuan daging kurban kepada warga terdampak. Namun hujan deras yang kembali turun membuat distribusi bantuan berlangsung dalam kondisi darurat.
“Tiga hewan kurban saya panitia. Ada 57 kilo yang belum tersalur, sementara sudah hujan. Terpaksa saya harus salurkan dulu,” ujarnya.
Ia mengaku baru tiba di rumah setelah membagikan bantuan tersebut dan mendapati istrinya sudah menangis karena rumah mereka ikut terdampak banjir.
“Baju-baju sudah dimasukkan di karung bersama beras. Posisi daging jam 2 belum tersalur, jam 3 hujan,” katanya.
Banjir di Kecamatan Bolaang sebelumnya dilaporkan menerjang empat desa, dengan Desa Solimandungan II menjadi wilayah terdampak paling parah. Ratusan rumah warga terendam lumpur dan material kayu yang terbawa arus dari pegunungan.

