ZONAUTARA.com – Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa tes darah sederhana mampu mendeteksi penyakit Alzheimer puluhan tahun sebelum gejala klinis muncul. Temuan ini memberikan harapan baru dalam menangani demensia dengan mengidentifikasi risiko penyakit sejak usia paruh baya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menyebutkan bahwa jejak Alzheimer bisa ditemukan sejak masa dewasa madya dan terkait dengan perbedaan kognitif yang terukur. Para ahli menganggap tes darah ini dapat menjadi instrumen berharga bagi dunia medis untuk mendeteksi perubahan otak lebih awal.
Penyakit Alzheimer disebabkan oleh penumpukan protein amyloid dan tau secara tidak normal di otak. Dalam studi ini, para peneliti mengukur kadar biomarker amyloid dan p-tau217 dalam darah 1.350 orang di Amerika Serikat dengan usia rata-rata 61 tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa 86 pasien memiliki kadar biomarker yang tinggi, yang dikaitkan dengan penurunan kognitif, memori, dan kecepatan pemrosesan.
Selain tes darah, studi lain yang diterbitkan dalam The Lancet mencatat metode pemindaian otak baru untuk memetakan kekusutan protein tau. Berdasarkan penelitian terhadap 682 pasien di AS dan Kanada, pelacak radioaktif MK6240 terbukti lebih efektif dalam mengidentifikasi tau daripada metode lama, memberikan deteksi yang lebih presisi.
Dr. Jacqui Hanley, Kepala Pendanaan Riset di Alzheimer’s Research UK, mengapresiasi temuan ini. Dia menyatakan bahwa tes darah yang akurat akan mempermudah diagnosis karena lebih murah dan lebih mudah diakses dibandingkan metode lain seperti PET scan atau pungsi lumbal. The Blood Biomarker Challenge saat ini sedang berupaya agar layanan tes darah ini tersedia di layanan kesehatan publik pada tahun 2029.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

