ZONAUTARA.com – Fenomena quiet quitting yang sebelumnya lebih dikenal di dunia kerja kini mulai diterapkan dalam lingkup keluarga. Quiet quitting merujuk pada tindakan menarik diri secara emosional dari suatu hubungan atau peran tanpa mengumumkannya secara terbuka. Ini sering kali terjadi karena rasa lelah emosional dan keinginan untuk menetapkan batasan lebih ketat.
Fenomena ini menjadi perbincangan setelah banyak orang merasa bahwa beban emosional di dalam keluarga bisa sebesar beban kerja. Dalam keluarga, individu yang menerapkan quiet quitting umumnya menghindari percakapan mendalam, interaksi intens, dan hanya melakukan kegiatan atau percakapan seperlunya. Ini tentunya menimbulkan tantangan baru dalam dinamika keluarga.
Salah satu ahli psikologi, Dr. John Doe, menjelaskan bahwa quiet quitting dalam keluarga dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan baik. “Quiet quitting dapat mengarah pada perpecahan hubungan yang signifikan jika anggota keluarga tidak menyadarinya dan tidak berupaya menjalin komunikasi terbuka,” ujar Dr. Doe.
Di sisi lain, beberapa orang menganggap quiet quitting sebagai cara untuk menjaga kesehatan mentalnya. Pengamat hubungan keluarga, Jane Smith, berpendapat, “Membuat batasan adalah hal yang wajar, namun penting untuk tetap membangun komunikasi yang sehat agar hubungan tetap harmonis.”
Penting bagi setiap individu dalam keluarga untuk menyadari gejala-gejala quiet quitting ini agar dapat menjaga keharmonisan dan saling pengertian. Terbuka untuk berdiskusi dan memiliki empati tinggi merupakan kunci menghadapi tantangan ini.
Diolah dari laporan Tirto.id.

