ZONAUTARA.com – Cadangan devisa Indonesia mencatatkan penurunan signifikan hingga Mei 2026, mengakibatkan investasi di Indonesia dinilai semakin berisiko. Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa turun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menekankan perlunya kewaspadaan terhadap tren ini di tengah pelemahan rupiah.
Menurut Syafruddin, meskipun cadangan devisa Indonesia saat ini masih dapat membiayai impor selama lima hingga enam bulan, penurunan terus-menerus tanpa perbaikan pada fundamental ekonomi dapat meningkatkan persepsi risiko investor. “Tren ini perlu diwaspadai. Cadangan devisa dapat terlihat cukup besar di atas kertas, tetapi mulai mencemaskan jika terus terkuras untuk menahan kurs tanpa diikuti perbaikan ekspor dan fundamental lainnya,” ujar Syafruddin.
Penurunan cadangan hingga mencapai Rp176,13 triliun sepanjang Januari-Mei 2026 turut memengaruhi kepercayaan investor asing. Syafruddin menjelaskan bahwa investor global menilai ketahanan ekonomi Indonesia berdasarkan nilai tukar rupiah, pergerakan pasar saham, dan indikator ekonomi lainnya.
Pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.155 per dolar AS, disertai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 37%, mencerminkan peningkatan premi risiko terhadap aset Indonesia. “Kondisi ini jelas memengaruhi kepercayaan investor asing,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat memperkuat komunikasi kebijakan dan menjaga konsistensi langkah guna memastikan stabilitas makroekonomi terwujud tidak hanya dalam data statistik, tetapi juga dalam kepercayaan pasar. Syafruddin menambahkan, stabilisasi nilai tukar dan arus modal masuk yang berkelanjutan sangat diperlukan.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

