ZONAUTARA.com – Lari maraton menjadi olahraga yang semakin diminati, namun para pelari diingatkan pentingnya memantau detak jantung (heart rate) guna menghindari risiko fatal. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, menyampaikan hal ini dalam wawancara di Depok, Jawa Barat, Senin (15/6).
Dr. Anindia menekankan lini awal maraton harus diawali dengan kondisi tubuh yang prima dan detak jantung yang normal. Kondisi ini penting untuk meminimalkan risiko kesehatan selama perlombaan berlangsung, di mana peningkatan denyut jantung adalah wajar tetapi perlu diwaspadai jika meningkat di luar batas kemampuan tubuh.
“Lebih baik kita hentikan dulu larinya, dengan berjalan menurunkan detak jantung kemudian dilanjutkan dengan berlari,” ujar dr. Anindia.
Dr. Anindia juga menyarankan persiapan maraton secara bertahap selama 12 hingga 16 minggu sebelum hari pelaksanaan sesuai jarak tempuh dan kebugaran pelari. Selain itu, pelari dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung perlu memastikan kondisi mereka terkontrol dan mungkin memerlukan penyesuaian dosis obat di bawah pengawasan dokter.
Selain mengamati detak jantung, menjaga hidrasi tubuh turut penting. Pelari disarankan meminum cairan secara teratur setiap mencapai jarak 2,5 kilometer, meski belum merasa haus. Setelah perlombaan, dr. Anindia mengingatkan pentingnya melakukan peregangan otot untuk mencegah kram otot.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

