ZONAUTARA.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyatakan bahwa anggaran kementeriannya cepat terserap akibat banyaknya pekerjaan darurat, terutama untuk membangun jembatan darurat pascabencana. Ia menggambarkan langkahnya yang kadang diambil di luar prosedur untuk memastikan infrastruktur permanen segera terwujud.
“PU ini, kan, makhluk aneh. Yang aneh itu saya sebetulnya,” ujar Dody saat berbicara di Kementerian PU, Jakarta, Jumat (19/6/2026). Pernyataan ini disampaikannya ketika menyinggung anggaran rekonstruksi Sumatra sebesar Rp100 triliun yang sudah disetujui Presiden Prabowo. Menurutnya, pekerjaan darurat sering hanya bersifat sementara dan tidak bertahan lama.
Dody mengungkapkan, jembatan darurat yang dibangun memiliki batas maksimum beban 20 ton. Namun, di rute seperti Medan-Banda Aceh yang merupakan jalur vital, sering kali truk-truk yang membawa lebih dari kapasitas menyeberang. “Jembatan itu darurat yang kita bangun itu enggak akan bertahan lama. Kenapa? Yang lewat itu kita batasin maksimum 20 ton. Tapi kan ini masih negara Indonesia. Kita, kan, sudah lama jadi orang Indonesia. Jadi enggak mungkin (dibatasi),” katanya.
Meskipun menyadari risikonya, Dody tetap mengambil keputusan untuk membangun jembatan permanen lebih cepat tanpa menunggu tahapan rekonstruksi. “Saya memberanikan diri. Walaupun sebetulnya waktu itu belum boleh. Saya masuk ke tahap rekonstruksi. Sudah langsung masuk, nyuruh untuk bikin permanennya,” tambahnya.
Realisasi anggaran Kementerian PU hingga 31 Mei 2026 telah mencapai 31,39 persen dari total pagu anggaran, yang setara Rp33,49 triliun dari pagu Rp106,71 triliun. Pembayaran pekerjaan dilakukan sesuai mekanisme APBN, yang melibatkan pemeriksaan dari BPKP sebelum pembayaran disetujui. “Kalau pekerjaan sudah ada. Begitu anggaran turun, invoice masuk, ya pasti ada pemeriksaan di BPKP. Sekarang lagi pemeriksaan di BPKP, nanti kan dibayar,” ucapnya.
Diolah dari laporan Tirto.id.

