ZONAUTARA.com – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, memicu kontroversi internasional setelah secara terbuka menyerukan agar wilayah Libanon dihancurkan. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas tewasnya empat tentara Israel di Libanon Selatan akibat serangan Hizbullah.
Pernyataan provokatif Ben Gvir tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat yang sedang bernegosiasi dengan Iran untuk meredam konflik. Ben Gvir menolak pendekatan diplomasi dan mendesak Israel untuk melakukan serangan tanpa pandang bulu. Melalui unggahan di platform X pada Jumat, 19 Juni, ia menyatakan bahwa Israel tidak boleh lagi menggunakan respons yang terukur demi keamanan warga Israel.
“Untuk setiap tetes air mata ibu Israel, seribu ibu Libanon harus menangis. Seluruh Libanon harus dibakar!” tulis Ben Gvir. Ia juga mengungkapkan bahwa Israel harus bertindak tanpa kendali untuk melenyapkan ancaman di Timur Tengah.
Sikap ini disampaikan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pertemuan pribadi, dengan desakan agar pemerintah mengabaikan tekanan dari sekutu, termasuk Amerika Serikat, untuk pengendalian diri militer. Retorika Ben Gvir telah memicu penolakan dari tokoh-tokoh di Amerika Serikat seperti mantan Presiden Donald Trump yang menilai perang melawan Hizbullah memakan terlalu banyak korban sipil.
Sementara itu, Wakil Presiden terpilih JD Vance mengingatkan ketergantungan militer Israel pada bantuan Amerika. Laporan menunjukkan adanya kemungkinan kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Libanon, seiring dengan tekanan dari kesepakatan AS-Iran yang mewajibkan penghentian operasi militer.
Ketegangan di kabinet Israel kini berada di titik kritis akibat ancaman dari menteri-menteri sayap kanan untuk mundur jika Netanyahu melanjutkan kesepakatan yang dianggap merugikan posisi militer Israel.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

