Piala Dunia 2026: Kontroversi Penggunaan Jet Pribadi Infantino dan Jepang Raih Poin Bersejarah

Gianni Infantino dikritik karena jet pribadi di Piala Dunia 2026, sementara Jepang meraih poin bersejarah dengan perilaku suporternya.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Piala Dunia 2026: Kontroversi Penggunaan Jet Pribadi Infantino dan Jepang Raih Poin Bersejarah

ZONAUTARA.com – Gianni Infantino, Presiden FIFA, menjadi sorotan di Piala Dunia 2026 karena penggunaan jet pribadinya yang berlebihan, sementara tim Jepang meraih poin bersejarah di Monterrey pada Minggu (21/6/2026) waktu setempat.

Infantino, yang terlihat menghadiri pertandingan di berbagai kota seperti Mexico City, Los Angeles, dan Seattle, telah menggunakan jet pribadi Qatar Airwaysnya untuk hadir di 10 pertandingan dalam tujuh hari. Penggunaan jet ini menimbulkan kritik dari kelompok lingkungan yang mempertanyakan kepeduliannya terhadap krisis iklim.

Dalam laporan terbaru, sebuah perusahaan Prancis yang mengkhususkan diri dalam penilaian jejak karbon, Greenly, menyatakan bahwa satu jam penerbangan dengan jet tersebut menghasilkan emisi setara dengan apa yang dihasilkan manusia rata-rata dalam setahun. Jika Infantino melanjutkan perjalanan antar kota hingga akhir babak 16 besar dan menyaksikan pertandingan perempat final, diperkirakan ia akan menghasilkan antara 300 hingga 500 ton CO2 hanya dari penerbangannya selama turnamen.

FIFA membela keputusan Infantino dengan menyebutkan bahwa eksekutifnya memilih antara penerbangan komersial dan pribadi berdasarkan efisiensi dan biaya yang paling efektif. Namun, David Gogishvili, seorang geografer dari Universitas Lausanne, menilai bahwa FIFA telah menciptakan paradoks keberlanjutan dengan menggunakan stadion NFL yang tersebar di seluruh benua, yang secara struktural bergantung pada perjalanan udara dengan emisi tinggi.

Sementara itu, di Monterrey, tim Jepang mendapatkan pujian atas perilaku baik suporter mereka yang membersihkan stadion setelah hasil imbang melawan Belanda. Namun, sebuah postingan viral di media sosial mengkritik bahwa pria Jepang tidak cukup berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga, menciptakan perdebatan tentang stereotip gender di Jepang.




Dengan Piala Dunia yang berlangsung dengan 48 tim, momen-momen seperti ini menunjukkan tidak hanya pertempuran di lapangan, tetapi juga tantangan yang lebih luas mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam dunia sepak bola.

Sumber: The Guardian

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com