ZONAUTARA.com – Pesawat pembom strategis berkemampuan nuklir Tu-160 Rusia telah melakukan latihan di perairan Laut Barents dan Norwegia selama 16 jam dengan dikuntit oleh jet tempur misterius dari negara asing yang tidak disebutkan namanya. Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada Selasa (23/6/2026). Latihan ini dilangsungkan di tengah meningkatnya ketegangan antara Moskow dan NATO terkait konflik di Ukraina.
Pesawat itu dikawal oleh jet tempur MiG-31 dan melibatkan latihan pengisian bahan bakar di udara. Kementerian menjelaskan bahwa penerbangan tersebut merupakan bagian dari patroli rutin di wilayah Arktik antara Norwegia, Islandia, dan Greenland. “Semua penerbangan Pasukan Dirgantara Rusia dilakukan sesuai dengan peraturan internasional yang mengatur penggunaan wilayah udara,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia melalui Telegram, dikutip dari RT.
Meski demikian, keberadaan pesawat tempur asing yang tidak dikenal menguntit pembom Tu-160 selama latihan berlangsung. Sebelumnya, pada bulan lalu, Rusia bersama sekutunya Belarus, juga telah melakukan latihan nuklir gabungan pertama. Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa pencegahan nuklir adalah bagian penting dari perlindungan kedaulatan negara di tengah “meningkatnya ketegangan global, serta munculnya ancaman dan risiko baru”.
Moskow mengingatkan bahwa dukungan militer NATO kepada Ukraina dan meningkatnya militerisasi di Eropa dapat memicu konflik yang lebih luas. Menlu Rusia, Sergey Lavrov, dalam artikelnya yang ditolak oleh Politico Europe, mencatat bahwa “Konfrontasi langsung antara NATO dan Rusia dapat dengan cepat meningkat menjadi serangan nuklir, dengan konsekuensi bencana.”
Dalam kesempatan lain di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, Putin menegaskan kembali bahwa Rusia tidak akan menyerang anggota NATO kecuali jika Rusia terlebih dahulu diserang. Ia juga menyatakan bahwa latihan yang dilakukan tersebut berada di perairan netral, meskipun diketahui bahwa Norwegia dan Greenland merupakan bagian dari NATO.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

