ZONAUTARA.com – Indonesia Battery Corporation (IBC) menargetkan pasar ekspor untuk produk baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang dihasilkan dari proyek ekosistem baterai dalam negeri. Proyek tersebut dilakukan melalui PT CATIB, kerjasama antara IBC dengan perusahaan asal China, CATL. Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyebut kehadiran pabrik sel baterai ini akan memberikan daya tawar lebih besar bagi Indonesia di industri baterai global.
“Jadi nanti market yang kita sasar itu tidak hanya domestik tapi juga global. Jadi kehadiran CATIB ini secara langsung bisa memberikan leverage bagi Indonesia di konstelasi industri baterai global,” ujar Aditya dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/6/2026).
Saat ini, pembangunan pabrik di Karawang, Jawa Barat sudah mencapai progres 90% dan ditargetkan mulai operasi komersial akhir Juli 2026. Kapasitas pertama yang diinstal akan mencapai 6,9 gigawatt hour dan segera ada ekspansi kapasitas hingga 15 GWh, setara dengan kebutuhan 250.000 kendaraan listrik.
IBC mengincar pasar Jepang dan Uni Eropa sebagai destinasi ekspor potensial, dengan fokus memenuhi standar keberlanjutan dan rendah emisi melalui metode Life Cycle Assessment (LCA). “Karena yang dilihat adalah satu rangkaian penuh dan IBC bermainnya adalah di midstream hingga downstream maka IBC memiliki kesempatan untuk meng-offset hotspot yang ada di hulu,” tambah Aditya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan proyek baterai EV di Karawang selesai Juli 2026 sebagai bagian dari program hilirisasi strategis nasional. Proyek ini dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Istana. Hilirisasi ini ditujukan untuk mendukung ketahanan energi nasional dengan cadangan energi di level aman. Indonesia kini membangun ekosistem pabrik baterai EV terintegrasi terbesar di Asia didukung cadangan nikel yang melimpah.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

