ZONAUTARA.com – Untuk mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt (GW), pemerintah sedang menyiapkan lahan seluas 28.000 hektare di Pulau Jawa. Proyek ini termasuk dalam program strategis di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa penyediaan lahan menjadi terobosan untuk mengatasi tingginya kebutuhan areal bagi pengembangan PLTS. PLN saat ini berkoordinasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menentukan lokasi pembangunan.
“Kami berkoordinasi secara intens dan juga secara continue dengan Kementerian ATR/BPN dan juga Kementerian ESDM dan dalam hal ini untuk di Pulau Jawa kemarin sudah dimasukkan usulan dari Kementerian ATR/BPN 28.000 hektare, kemudian kami overlay dengan peta jaringan transmisi dan gardu induk yang kita miliki,” kata Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7/2026).
Darmawan menjelaskan, dari total lahan tersebut, sekitar 8.500 hektare akan digunakan untuk memproduksi sekitar 8,5 Giga Watt peak (GWp) listrik. Selain itu, ada rencana pembangunan sistem penyimpanan energi menggunakan battery energy storage system (BESS).
Pembangunan PLTS juga akan memanfaatkan waduk-waduk untuk mengurangi kendala pengadaan lahan. Sebanyak 10.000 hektare dari permukaan waduk diperkirakan dapat menghasilkan 10 GWp tenaga surya.
“Ditambah juga ada pembangunan PLTS dengan BESS di waduk-waduk yaitu sebesar 10.000 hektar. Ini hanya di Pulau Jawa saja, artinya menambah 10 Giga Watt peak,” jelas Darmawan.
Penggunaan PLTS dengan BESS diketahui sensitif terhadap biaya lahan. Menurut Darmawan, harga lahan Rp200.000 per meter dapat menaikkan harga listrik 1 sen per kWh.
“Jadi kalau harga lahannya Rp600.000 per meter itu namanya 3 sen per kWh,” katanya. Dengan tanah yang disediakan pemerintah dan penggunaan waduk, program ini sangat kompetitif secara ekonomi.
Program ini diperkirakan akan menambah kapasitas hingga 2030 sebesar 19,1 Giga Watt, yang juga diharapkan dapat meningkatkan keandalan listrik dan mengurangi konsumsi BBM berbasis impor.

