ZONAUTARA.com – Kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara menimbulkan ketegangan di antara negara-negara anggota. Trump, yang dikenal tidak menyukai NATO, menyatakan kehadirannya di Ankara karena faktor kedekatannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sesampainya di lokasi, Trump langsung menyampaikan pernyataan kontroversial bahwa AS seharusnya mengambil alih Greenland dari Denmark. Pernyataan ini memicu respons keras dari Perdana Menteri Denmark, yang menyatakan bahwa langkah tersebut dapat mengancam kelangsungan NATO.
Dalam kesempatan tersebut, Trump juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap sekutu NATO yang tidak mendukung AS dalam konflik dengan Iran. Ia secara langsung menyindir Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, walaupun Inggris sebelumnya telah mengizinkan penggunaan pangkalan militernya bagi operasi AS terhadap Iran. “Dia bilang, ‘Tidak, kami akan membantu setelah perang selesai.’ Saya katakan saya tidak butuh bantuan seperti itu,” ujar Trump.
Di tengah drama politik yang terjadi, KTT NATO berupaya untuk tetap fokus pada agenda utama, yaitu mempersenjatai Eropa kembali. NATO mengumumkan kontrak untuk pesawat angkut Airbus baru dan pesawat pengintai GlobeEye dari Swedia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengingatkan pentingnya pertahanan udara Eropa yang mandiri, mengingat serangan rudal balistik Rusia yang terjadi baru-baru ini di Kyiv.
“Eropa membutuhkan sistem dan rudal anti-balistiknya sendiri yang efektif,” tegas Zelensky. “Pekerjaan ini sudah berjalan, dan saya mendesak semua mitra kami untuk memberikan perhatian yang layak. Eropa membutuhkan sistem anti-balistik produksi massal yang terjangkau sesegera mungkin.” Desakan Zelensky diperkuat dengan kenyataan bahwa Amerika Serikat terus mengurangi komitmen pertahanannya di Eropa.
Terdapat kekhawatiran bahwa peralatan baru ini diperlukan segera untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari Rusia. Jika perang di Ukraina berakhir, Rusia bisa melakukan persenjataan ulang dengan cepat dan mengancam keamanan kawasan dalam empat tahun ke depan.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

