5.300 Perusahaan Jepang Bangkrut, Catat Rekor Tertinggi

5.300 perusahaan Jepang bangkrut pada 2026, rekor tertinggi dalam 12 tahun, terutama di sektor usaha kecil.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: CNBC Indonesia – News

ZONAUTARA.com – Jepang mengalami lonjakan kebangkrutan perusahaan yang mencapai rekor tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Menurut data Tokyo Shoko Research, sebanyak 5.346 perusahaan telah bangkrut sepanjang semester pertama tahun 2026, dengan sekitar 90% dari jumlah tersebut adalah usaha kecil yang mempekerjakan kurang dari 10 orang.

Kebangkrutan ini menandai tekanan baru terhadap sektor usaha setelah bertahun-tahun dijaga oleh kebijakan moneter dan fiskal yang longgar. “Jumlah kebangkrutan telah meningkat ke level tertinggi pada semester pertama dalam 12 tahun,” ujar Tokyo Shoko Research dalam laporan yang dikutip NDTV Profit, Jumat (10/7/2026). Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa mayoritas perusahaan yang gulung tikar memiliki modal di bawah 10 juta yen, terutama menghantam usaha kecil dan menengah (UKM).

Sektor jasa mendapat beban terberat, menyumbang sekitar sepertiga dari total kebangkrutan pada semester pertama 2026. Restoran, toko makanan, dan bisnis akomodasi adalah yang paling terdampak. Kebangkrutan terbesar kedua terjadi di sektor konstruksi dan perdagangan, dengan profesi seperti tukang kayu, tukang cat, tukang ledeng, dan kontraktor listrik mengalami dampak besar, sementara kontraktor besar relatif lebih mampu bertahan. Fenomena ini dilaporkan terjadi hampir di seluruh wilayah Jepang dan dianggap mencerminkan perlambatan berskala nasional.

Penyebab utama kebangkrutan berasal dari lemahnya penjualan, bukan hanya penurunan nilai tukar yen. Tokyo Shoko Research mencatat bahwa hampir tiga perempat kasus kebangkrutan dari 2025 hingga semester pertama 2026 disebabkan oleh “penjualan yang buruk.” Kondisi ini menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat dan aktivitas bisnis, terutama setelah biaya bahan baku dan energi meningkat seiring dengan pelemahan yen dan konflik di Asia Barat.

Selain itu, kekurangan tenaga kerja juga memperburuk situasi dengan 237 kasus kebangkrutan berkaitan dengan persoalan tenaga kerja pada semester I-2026. Perusahaan kecil kesulitan bersaing dengan perusahaan besar dalam menarik tenaga kerja, terutama di sektor yang sangat bergantung pada pekerja terampil seperti konstruksi. Lonjakan kebangkrutan ini mencerminkan beratnya transisi ekonomi Jepang menuju periode inflasi dan kenaikan upah, yang masih bisa diatasi oleh perusahaan besar namun menantang bagi ribuan UKM.




Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com