ZONAUTARA.com – Pertemuan puncak NATO yang berlangsung selama 48 jam di Ankara, Turki, menjadi panggung bagi Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk menunjukkan pengaruhnya dalam diplomasi global. Di tengah ketegangan akibat isu perang Ukraina, konflik dengan Iran, dan perdebatan belanja militer, suasana KTT berubah dari konfrontatif menjadi lebih bersahabat setelah pertemuan beberapa pemimpin.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Presiden Trump, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer hadir dalam KTT yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia. Banyak peserta awalnya khawatir dengan kritik Trump terhadap negara-negara anggota yang dinilai belum memenuhi komitmen belanja pertahanan. Namun, setelah pertemuan tertutup, Trump menyampaikan bahwa diskusi berjalan lebih positif dari yang diperkirakan.
“Persatuan itu luar biasa. Kasih sayang di ruangan itu sangat luar biasa,” ujar Trump dalam konferensi pers penutupan KTT, seperti dilaporkan CNBC International.
Perubahan suasana ini mengejutkan banyak pihak. Beberapa pemimpin dunia menyebut bahwa Trump mendengarkan pandangan para pemimpin NATO dan meninggalkan forum dengan suasana hati yang baik, berbeda dengan kritik yang sebelumnya ia lontarkan.
Berbagai isu besar dibahas dalam KTT, termasuk perang Rusia-Ukraina, ancaman Iran, dan sengketa Greenland dengan Denmark. Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menekan anggota NATO agar meningkatkan anggaran pertahanan dan menegaskan komitmen keamanan bersama. Trump juga membuat pernyataan mengenai nota kesepahaman dengan Iran, yang sempat memicu gejolak di pasar keuangan.
Pertemuan ini juga membawa angin segar bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang dinilai membaik hubungannya dengan Trump setelah Ukraina mempertahankan posisi di medan perang. Zelenskyy berpeluang mendapat dukungan lebih besar, termasuk kerja sama produksi sistem rudal Patriot yang penting bagi Kyiv.
Sebaliknya, Rusia diperkirakan dirugikan oleh persatuan NATO dan komitmen peningkatan belanja pertahanan. Demonstrasi kesatuan aliansi dan membaiknya hubungan Trump dengan Ukraina adalah perkembangan tidak menguntungkan bagi Presiden Vladimir Putin. Namun, masa depan hubungan AS-Iran masih menyisakan tanda tanya besar setelah pernyataan Trump yang tegas bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir selama ia menjabat.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

