ZONAUTARA.com – Sejarah Indonesia mengungkap salah satu kisah tragis yang melibatkan seorang menteri pada masa awal kemerdekaan, yaitu Otto Iskandar Dinata atau Otista, yang diculik oleh kelompok bersenjata setelah diduga sebagai intel asing. Peristiwa ini meninggalkan misteri karena nasibnya belum diketahui hingga kini.
Nama Otto Iskandar Dinata dikenal luas sebagai pahlawan nasional, wajahnya bahkan diabadikan dalam uang pecahan Rp20 ribu, dan namanya banyak digunakan sebagai nama jalan utama di berbagai daerah di Indonesia. Perjalanan hidupnya yang penuh pengabdian berakhir dengan kisah yang tak tuntas, diwarnai tuduhan miring dan penculikan misterius.
Penculikan itu terjadi ketika situasi politik dan keamanan Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan masih bergejolak. Otto dituduh sebagai mata-mata asing, sehingga menjadi sasaran kelompok bersenjata yang saat itu banyak muncul dengan berbagai kepentingan. Kekacauan semakin memuncak ketika berbagai kelompok ini tidak mau dilebur ke dalam satu komando di bawah pemerintah pusat, termasuk menentang dengan cara-cara radikal.
Otto yang merupakan tokoh penting dalam pergerakan nasional serta anggota BPUPKI dan PPKI, pada 19 Desember 1945, diculik oleh Laskar Hitam di Tangerang dan dibawa ke Pantai Mauk. Hingga saat ini, keberadaannya tidak pernah terungkap. Tugasnya saat itu sebagai Menteri Negara untuk membantu mengorganisasi kekuatan militer tidak mudah, mengingat keragaman latar belakang kelompok bersenjata.
Menurut buku “Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories” karya Iip D. Yahya, penculikan Otto dipicu oleh desas-desus dari agen Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang menyebar bahwa Otto adalah mata-mata Belanda. Ada juga tuduhan bahwa ia menguasai uang sebesar satu juta gulden Belanda. Padahal, uang ini berasal dari rampasan perang Jepang, seolah menunjukkan Otto berpihak pada Belanda.
Karena tidak pernah ada kepastian mengenai nasibnya, pemerintah menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata. Tujuh tahun kemudian, upacara pemakaman simbolis diadakan di Bandung tanpa jasad Otto, hanya pasir dan air laut sebagai simbol di Monumen Pasir Pahlawan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

