ZONAUTARA.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) secara resmi memulai langkah strategis untuk memulihkan sektor peternakan babi nasional melalui peresmian Kemitraan Genetika Ternak Babi Indonesia-Denmark. Acara peresmian ini berlangsung di The Dharmawangsa Jakarta pada Selasa (14/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Victor Mailangkay, hadir membacakan sambutan mewakili Gubernur Sulut, Yulius Selvanus. Acara ini turut dihadiri oleh Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen, serta perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian Pertanian.
Langkah Nyata Pemulihan Pasca-Pandemi ASF Dalam sambutannya, Victor Mailangkay menekankan bahwa peternakan babi merupakan urat nadi perekonomian rakyat serta bagian tak terpisahkan dari adat dan budaya di Sulawesi Utara. Namun, sektor ini sempat terpuruk akibat wabah African Swine Fever (ASF) yang memicu defisit kebutuhan babi nasional hingga 4 juta ekor per tahun.
“Kehadiran kemitraan ini adalah jawaban nyata. Kita tidak hanya merayakan kerja sama bisnis, melainkan memulai langkah besar pemulihan (recovery) pasca-pandemi ASF secara terstruktur, modern, dan berkelanjutan,” ujar Victor Mailangkay.

Impor Perdana 546 Bibit Unggul Denmark Sebagai bukti nyata komitmen kemitraan, sebanyak 546 ekor bibit murni unggul babi asal Denmark telah tiba di Bandara Sam Ratulangi Manado pada 7 Juli 2026 lalu. Kedatangan ini mencatatkan sejarah sebagai impor perdana indukan babi setelah beberapa dekade terakhir.
Proses impor ini dilakukan dengan protokol kesehatan hewan yang sangat ketat. Sebelum dikirim, seluruh bibit telah menjalani karantina selama 20 hari di Denmark.
Setibanya di Manado, bibit-bibit dari DanBred tersebut langsung dipindahkan menggunakan kendaraan khusus yang steril menuju Instalasi Karantina Hewan (IKH) dengan sistem kandang tertutup (closed house) untuk observasi lanjutan dan pengujian laboratorium.
Transformasi Menuju Peternakan Modern Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menaruh tiga harapan besar melalui kemitraan antara perusahaan swasta Sulawesi Optima Wirakarya (SOW) dan DanBred ini:
- Akselerasi Populasi: Masuknya genetika unggul diharapkan menjadi motor penggerak untuk mengembalikan populasi ternak lokal secara cepat dan efisien.
- Modernisasi Sistem: Mendorong transformasi peternakan tradisional menuju industri modern yang ramah lingkungan dengan sistem biosekuritas yang kokoh.
- Inklusivitas Peternak Rakyat: Pemerintah menitipkan pesan agar kemitraan ini tidak bersifat monopoli, melainkan merangkul dan mengedukasi peternak rakyat agar kembali berdaya.

Menutup sambutannya, Victor menegaskan komitmen Pemprov Sulut untuk menjaga iklim investasi yang kondusif guna memastikan kemitraan ini berjalan berkelanjutan.
“Semoga kerja sama bilateral ini membawa berkat, kemakmuran, dan kemajuan yang berkelanjutan bagi bangsa kita,” pungkasnya.

