ZONAUTARA.com – Spanyol berhasil mengalahkan Prancis dalam semifinal Piala Dunia Geopolitik 2026 yang berlangsung pada Selasa (15/7/2026) WIB. Pertandingan ini menyisakan kenangan pahit bagi Les Bleus, yang kehilangan arah setelah memberikan penalti di akhir kuarter pertama dan tampak tidak berdaya sepanjang pertandingan.
Kylian Mbappé sempat memberikan harapan bagi timnya dengan mencetak gol dan memperkecil ketertinggalan, namun upaya tersebut tidak cukup untuk mengubah nasib Prancis. Meskipun pertandingan berlangsung ketat, Spanyol menunjukkan penguasaan permainan yang lebih baik meskipun persentase penguasaan bola hampir seimbang.
Prancis, yang dikenal sebagai tim hiburan dalam turnamen ini, harus pulang lebih awal meskipun masih memiliki kesempatan untuk berkompetisi dalam pertandingan perebutan medali perunggu di Miami. Pelatih Didier Deschamps merasa sakit hati dengan hasil ini, terlebih dengan kehilangan pribadi yang dialaminya di luar lapangan.
Deschamps, yang menginginkan permainan terbaik dari timnya, menyatakan bahwa mereka gagal memenuhi ekspektasi di semifinal. Mbappé juga mengakui kekecewaannya, mengatakan bahwa ketika tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan di semifinal Piala Dunia, hasilnya adalah kekalahan yang menyedihkan.
Spanyol kini bersiap untuk tampil di New York New Jersey Stadium dalam penutupan Piala Dunia Geopolitik, di mana FIFA telah mengumumkan penampilan dari beberapa artis ternama seperti Laura Pausini dan Robbie Williams. Upacara penutupan ini akan menjadi perayaan besar yang menggabungkan olahraga, musik, dan dampak global.
Dalam konteks yang lebih luas, pelatih Argentina Lionel Scaloni menyerukan ketenangan menjelang semifinal melawan Inggris, dengan mengingat sejarah konflik antara kedua negara namun tetap menjaga fokus pada pertandingan. Sementara itu, wakil presiden Argentina Victoria Villarruel menunjukkan semangat nasionalis yang tinggi menjelang pertandingan tersebut, menekankan pentingnya momen ini bagi negara mereka.
Diskusi mengenai masa depan Piala Dunia juga muncul, dengan beberapa pengamat menyarankan untuk memikirkan kembali format turnamen dan proses kualifikasi agar lebih inklusif dan efisien.
Sumber: The Guardian

