ZONAUTARA.com – Surutnya debit air Sungai Cisadane dalam sebulan terakhir akibat musim kemarau telah memicu krisis air di sejumlah daerah, terutama di Kota Tangerang Selatan. Pantauan di aliran setelah Bendung Pasar Baru atau Pintu Air 10, Tangerang, menunjukkan penurunan drastis debit air, yang diperparah dengan minimnya air dari hulu di Bogor dan rendahnya curah hujan.
Pengurangan debit air membuat banyak warga turun ke dasar sungai untuk memancing atau menjala ikan. Gunawan, seorang pemancing, mengatakan bahwa kondisi air surut ini sudah berlangsung selama satu bulan. “Sudah sekitar sebulan sejak hujan tidak turun. Pintu bendung juga jarang dibuka sehingga air surut. Biasanya saya memancing dari atas, sekarang bisa turun langsung ke dasar sungai. Ikannya juga masih banyak,” ujar Gunawan.
Ketinggian air Sungai Cisadane turun sekitar 12 persen dari elevasi normal 12,45 meter. Sebagai tindak pencegahan, seluruh 10 pintu bendung saat ini ditutup untuk menjaga ketersediaan air baku. Namun, kebijakan ini berpotensi memengaruhi pasokan air bagi lahan pertanian di daerah hilir.
Di wilayah Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, krisis air semakin dirasakan. Di Kampung Koceak, RW 02, sejumlah sumur warga kering sejak bulan lalu, membuat beberapa warga harus mencuci di sungai dan bergantung pada bantuan air dari tangki.
Ekawati, warga setempat, menyatakan, “Sudah enggak ada air. Sudah sebulan.” Ketua RW 02, Nasrullah, mengungkapkan bahwa krisis ini menjadi masalah tahunan ketika musim kemarau. “Yang paling parah itu tahun 2023. Hampir setiap hari BPBD mengirimkan air ke wilayah kami,” katanya.
Camat Setu, Erwin Gemala Putra, menyebutkan bahwa sekitar 35 kepala keluarga terdampak krisis air, dengan wilayah Kecamatan Setu memiliki kerawanan tertinggi di antara tujuh kecamatan di Tangerang Selatan. BPBD setempat juga memetakan sekitar 16.485,47 hektare area berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Diolah dari laporan CNN Indonesia – Nasional.

