ZONAUTARA.com – Suasana apel pagi di lingkungan Pemerintah Kota Kotamobagu berlangsung berbeda dari biasanya. Apel yang dipimpin Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, diawali dan diisi dengan amanat yang disampaikan sepenuhnya dalam Bahasa Mongondow.
Penggunaan bahasa daerah dalam amanat tersebut sempat membuat para peserta apel terkejut. Namun, suasana itu segera berubah menjadi antusias karena seluruh peserta menyimak dengan saksama setiap pesan yang disampaikan.
Mengawali amanatnya, Sahaya mengajak seluruh aparatur sipil negara untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan dan kesempatan menjalankan tugas sebagai abdi negara.
“Igai kita komintan mopoponik syukur kon Tayowon Allah Subhanahu Wata’ala atas barakat, badan mo sehat. Kon apel tana’a oyu’on pa koyow koi minimu komintan,” ujarnya, Kamis, (23/7/2026).
Ia kemudian mengingatkan bahwa Agustus merupakan bulan yang memiliki makna penting, bukan hanya bagi bangsa Indonesia sebagai bulan kemerdekaan, tetapi juga bagi masyarakat Bolaang Mongondow.
“Kon bulan moitayowmai na’a bulan Agustus 2026, kita komintan bangsa Indonesia menayow kon singgai moloben, singgai kebebasan naton 17 Agustus 2026. Sadia’an naton bayongan itog Lipuk Mongondow mo tomu kon singgai ta tua,” katanya.
Dalam amanat tersebut, Sahaya juga menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan Pemerintah Kota Kotamobagu memperjuangkan pengakuan budaya daerah di tingkat nasional. Menurutnya, upaya yang dilakukan Wali Kota Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat telah membuahkan hasil dengan ditetapkannya Tarian Dana-Dana dan Bahasa Mongondow sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia.
“Itoi naton Ki Wali Kota Weny Gaib bo Ki Wakil Wali Kota Rendy V. Mangkat nonongganut kon itoi minta in adat nogusul kon Pomarentah Pusat, kapunyaan adat naton Tari Dana-Dana bo Bahasa Mongondow mo balikpa budel negara. Alhamdulillah, inoyopakat in Pomarentah Pusat no tetapkan adat budaya naton, Tarian Dana-Dana bo Bahasa Mongondow nobalik budel (Warisan) Budaya Bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Pengakuan tersebut, lanjut Sahaya, harus menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat, khususnya aparatur sipil negara, untuk semakin aktif menggunakan Bahasa Mongondow dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi mulai kon singgai tana’a, inggai kita komintan salalu pa tumo Mongondow bo salalu padoman ouman tomo Mongondow kota’ awan adi’ bo ompu naton. Ko’onda umpaka kon kantor, sikola ko ondaka dika bi’ mo oya’ tu mo Mongondow pa kita,” ajaknya.
Menjelang akhir amanat, Sahaya menyampaikan apresiasi kepada seluruh ASN yang hadir mengikuti apel pagi.
“Tonga’ pa tua in podapot, sukur mo anto don kon namu toli komintan, guya guyang, ayi ayi pegawai ta nongo jujur, noyo sipunpa kon dolodolom tana’a. Iyap ki ine mako no mangoi (hadir), bo dia’ no mangoi dika sia paison,” tuturnya.
Secara umum, amanat tersebut menegaskan pentingnya rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, semangat menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kebanggaan atas pengakuan Tarian Dana-Dana dan Bahasa Mongondow sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia, serta ajakan kepada seluruh ASN untuk menjadi teladan dalam menjaga, menggunakan, dan melestarikan Bahasa Mongondow di lingkungan kantor, sekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Usai amanat disampaikan, suasana apel kembali menarik perhatian ketika Komandan Apel menyampaikan laporan penutup menggunakan Bahasa Mongondow dengan kalimat, “Apel aidon nopalut” yang berarti “apel telah selesai”. Laporan tersebut dijawab Sahaya dengan ucapan, “Pobuidon” atau “kembali ke tempat”.
Jawaban itu langsung disambut senyum dan tawa para peserta apel. Meski sederhana, momen tersebut menjadi penutup yang unik sekaligus memperlihatkan upaya nyata membiasakan penggunaan Bahasa Mongondow dalam aktivitas pemerintahan.
Pelaksanaan apel pagi dengan menggunakan Bahasa Mongondow menjadi salah satu wujud komitmen Pemerintah Kota Kotamobagu dalam melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya. Diharapkan, semangat tersebut terus tumbuh sehingga Bahasa Mongondow tetap hidup, digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

