Karhutla Menjadi Bencana Paling Banyak Dilaporkan Menurut BNPB

Karhutla dilaporkan oleh BNPB sebagai bencana paling sering terjadi dalam pelaporan sehari.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Media Indonesia

ZONAUTARA.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi bencana yang paling banyak terjadi di berbagai daerah selama periode pelaporan, mulai Minggu (26/7) pukul 07.00 WIB hingga Senin (27/7) pukul 07.00 WIB. Tercatat, sedikitnya lima daerah mengalami kebakaran lahan, sementara banjir dan tanah longsor juga melanda sejumlah wilayah lainnya.

Menurut laporan dari Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, karhutla terjadi di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung; Kabupaten Wonogiri dan Klaten, Jawa Tengah; Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan; serta Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Di Bangka Tengah, kebakaran menghanguskan sekitar tiga hektare lahan di Desa Penyak, Kecamatan Koba pada Sabtu (25/7), dan berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari dua jam oleh Tim Reaksi Cepat BPBD.

Di Kabupaten Wonogiri, kebakaran melahap sekitar tiga hektare lahan di Petak 19 RPH Cubluk. Sementara di Banjarbaru, kebakaran lahan gambut seluas dua hektare masih dalam tahap pemadaman dan pembasahan oleh BPBD bersama tim gabungan hingga Minggu (26/7). Kebakaran yang melibatkan lahan seluas sekitar satu hektare di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, juga tengah dipadamkan. Di Kabupaten Klaten, lahan seluas 2,8 hektare berhasil dipadamkan pada Minggu (26/7) petang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus waspada selama musim kemarau. “BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla,” jelas Abdul Muhari dalam keterangan tertulis pada Senin (27/7).

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi kebakaran sangat penting, demikian pula dengan ketersediaan sarana dan prasarana pemadaman. “Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi karhutla dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman,” lanjutnya. Abdul juga menekankan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran di wilayah rawan kebakaran dan segera melapor kepada otoritas setempat jika terjadi kebakaran. “Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah yang rawan terbakar. Apabila masyarakat mengetahui atau melihat kejadian kebakaran, segera lapor kepada otoritas daerah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” tegasnya.




Diolah dari laporan Media Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com