ZONAUTARA.com – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tampaknya memasuki fase baru setelah tiga bulan gencatan senjata berakhir, tanpa tanda-tanda ada pihak yang unggul. Konflik yang kembali pecah bulan ini tidak menunjukkan keunggulan strategis bagi kedua belah pihak. “Operasi militer AS saat ini berada dalam posisi ditahan setelah dua pekan berturut-turut melakukan serangan malam hari,” ungkap sumber Departemen Pertahanan AS kepada CNN, Minggu (26/7/2026) waktu setempat. Di tengah kebuntuan ini, muncul keraguan dari kalangan pendukung AS. Berikut enam pertanyaan krusial seputar masa depan konflik Iran-AS ini, merujuk analisis CNN.
Para tokoh Partai Republik yang sebelumnya mendukung konflik kini mempertanyakan durasinya. Pembawa acara Fox News, Laura Ingraham, dan Ketua DPR AS Mike Johnson mengungkapkan pentingnya menyelesaikan konflik sebelum Pemilu Sela November mendatang. “Waktu terus berjalan bagi Presiden Trump untuk keluar dari perang ini sebelum pemilih pergi ke TPS. Partai Republik tidak boleh membiarkan ini menjadi gangguan tanpa akhir,” ujar Ingraham. Senator Bill Cassidy dari Louisiana menambahkan bahwa Trump seharusnya sudah mencapai tujuannya dan mengakhiri perang. Namun, hingga kini belum tercapai, seiring penolakan Iran terhadap proposal perdamaian AS.
Presiden Trump secara terang-terangan khawatir bahwa korban jiwa tentara AS dapat merusak dukungan publik. Tercatat 18 prajurit AS tewas sejak serangan berulang dimulai. “Keluarga korban dan para prajurit yang gugur pada dasarnya mendukung penuh upaya perang ini,” klaim Trump. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan 42% pemilih Republik dan 53% pemilih independen menolak perang akibat jatuhnya korban jiwa. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) juga memperkuat penolakan terhadap perang.
Trump menahan diri dari eskalasi militer besar, namun situasi buntu bisa mendorongnya untuk mengambil opsi tersebut. Salah satu pilihannya mungkin menyerang infrastruktur penting Iran meski ini berisiko. Jika terus terjadi, hal ini dapat menambah tekanan politik dalam negeri bagi Trump.
Kementerian Pertahanan AS juga tengah mengawasi dengan seksama dampak politik dalam negeri jika korban terus bertambah. Sebesar 140 prajurit luka-luka juga dicatat dalam laporan Pentagon. Perang ini berpotensi mempersulit posisi politik Trump menjelang pemilu, sejalan dengan lonjakan ketidakpopuleran akibat konflik yang berkepanjangan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

