ZONAUTARA.com — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda kawasan pegunungan di perbatasan Inobonto-Langagon, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, Jumat (14/8/2026).
Api terlihat membakar vegetasi di kawasan pegunungan yang berada sekitar 100 meter dari titik pengamatan petugas. Lokasi kebakaran berada di area yang sulit dijangkau karena berada di atas gunung.
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bolmong yang berada di lokasi tidak dapat melakukan pemadaman langsung ke titik api. Mereka memilih berjaga di sisi jalan untuk mengantisipasi jika kobaran api bergerak turun dan mendekati permukiman warga maupun akses jalan.
“Karena tidak bisa dijangkau karena di atas gunung, ya kami hanya bisa berjaga di sisi jalan agar kebakarannya tidak meluas ke rumah warga di pemukiman, atau semakin mendekat ke area jalan ini,” ujar Delfianto Pongoliu (43), petugas Damkar Bolmong.
Laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 14.00 WITA. Hingga petugas berada di lokasi, api masih terus menyebar sehingga luas lahan yang terbakar belum dapat dipastikan.
“Kalau dilihat kebakaran hutan ini sudah cukup luas, namun untuk berapa luasan pastinya kami belum bisa mengkalkulasi berapa hektar, apalagi saat ini api masih menyebar terus,” kata Delfianto.
Petugas juga belum mengetahui secara pasti titik awal munculnya api. Namun, dari pengamatan di lapangan, sumber api diduga berada di sekitar ladang warga.
“Titik mula api kami belum tahu, tapi kemungkinan dari ladang warga. Tadi siang, kami lihat titik apinya dari kebun jagung yang kering di sana. Sekitar seratus meter dari sini,” ujar Burhan Kaawoan (45).
Laporan kebakaran masuk setiap hari
Kebakaran di pegunungan perbatasan Inobonto-Langagon bukan satu-satunya laporan yang diterima Damkar Bolmong selama Agustus 2026.
Delfianto mengatakan, hampir setiap hari regunya menerima laporan kebakaran. Dalam sehari, bahkan terdapat beberapa titik kebakaran yang harus ditangani petugas.
“Kalau di regu kami, pada bulan Agustus ini, laporan kebakaran yang masuk ada setiap harinya. Setiap piket selalu ada laporan. Bahkan dalam dua titik minimal bisa ada dua titik,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, petugas mengaku menangani beberapa titik kebakaran, antara lain di Inobonto, kawasan belakang rumah Bupati Bolmong, di muka gilingan menuju arah Kaiya, serta di Lolan.
Kondisi tersebut membuat petugas harus membagi sumber daya yang terbatas. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bolmong memiliki tiga unit mobil pemadam kebakaran.
“Bolmong memiliki tiga unit mobil pemadam kebakaran, satu stand by di Dumoga, dan di wilayah ini ada dua. Ini satu dan satu lagi ada di arah Maelang di Sauk sana,” jelas Delfianto.

Lima petugas siaga 24 jam
Di lokasi kebakaran pegunungan Inobonto-Langagon, lima petugas disiagakan. Mereka harus bersiap selama 24 jam untuk mengantisipasi perubahan arah dan perluasan api.
“Kami yang bertugas ada lima orang, namun yang lainnya masih pergi mengambil makanan, karena kami akan siaga 1×24 jam,” kata Delfianto.
Medan menjadi salah satu kendala terbesar dalam penanganan kebakaran. Karena titik api berada di kawasan pegunungan, kendaraan pemadam tidak dapat mendekati lokasi.
Akibatnya, strategi petugas lebih diarahkan untuk menjaga agar api tidak turun ke wilayah yang berpotensi membahayakan warga.
Situasi ini juga membuat petugas harus terus memantau pergerakan api, terutama karena vegetasi di sekitar titik kebakaran dalam kondisi kering.
Agustus menjadi periode rawan karhutla
Kebakaran di Inobonto-Langagon terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki periode puncak musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 secara nasional terjadi pada Juli-September. Agustus menjadi bulan dengan cakupan puncak kemarau terbesar, mencapai 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Kondisi tersebut juga relevan dengan wilayah Bolaang Mongondow. Dalam prediksi musim kemarau Sulawesi Utara, BMKG mencatat sebagian besar Bolaang Mongondow berada pada zona musim yang diperkirakan memasuki awal musim kemarau pada Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus.
BMKG juga telah mengingatkan adanya penguatan fenomena El Niño pada 2026. Pada akhir Juli, BMKG menyatakan El Niño telah berada pada kondisi kuat dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan dapat membuat musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga risiko kekeringan dan karhutla meningkat.
Dalam pembaruan BMKG lainnya, kondisi kering pada awal Agustus disebut mulai meningkatkan ancaman kekeringan dan karhutla. BMKG juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi periode tanpa hujan yang semakin panjang.
Namun, kondisi iklim tersebut tidak serta-merta menjadi bukti penyebab kebakaran di Inobonto-Langagon. Berdasarkan keterangan petugas di lapangan, sumber awal api masih belum diketahui secara pasti dan dugaan bahwa api berasal dari ladang warga masih perlu dibuktikan.
Sumber air menjadi tantangan
Selain medan yang sulit, ketersediaan air menjadi persoalan lain yang harus diperhitungkan petugas ketika menangani kebakaran.
Untuk mengisi tangki mobil pemadam, petugas mengandalkan hydrant yang tersedia di kawasan PT Conch. Sementara hydrant lain yang berada di depan Kantor Camat Bolaang, Inobonto, saat ini sedang dalam perbaikan.
“Untuk mengisi air di mobil, kami mengandalkan hydrant yang saat ini ada di PT Conch. Selain di PT Conch, terdapat juga titik hydrant lainnya, yakni di depan kantor Camat Bolaang, di Inobonto, tetapi saat ini sedang dalam perbaikan,” ujar Delfianto.
Petugas juga memanfaatkan sungai-sungai terdekat sebagai sumber air alternatif yang dapat disedot menggunakan peralatan pemadam.
Mobil Damkar yang digunakan memiliki kapasitas sekitar 4.000 liter. Ketersediaan sumber air menjadi penting karena petugas harus siap melakukan pemadaman apabila api mulai bergerak mendekati kawasan yang dapat dijangkau.
Bagi petugas Damkar, menghadapi kebakaran di medan sulit merupakan bagian dari pekerjaan. Burhan mengatakan masyarakat terkadang menilai petugas terlambat tiba ketika api sudah membesar.
Namun, menurutnya, petugas baru dapat bergerak setelah menerima laporan mengenai kejadian kebakaran.
“Suka dukanya, ya kami harus ikhlas. Kalau lama sampai sering dimarahi, kalau datang cepat tidak mungkin, sebab namanya kebakaran, yang ada peristiwa dulu baru kami datang,” kata Burhan sambil bercanda.
Ia mengakui pekerjaan sebagai pemadam kebakaran memiliki banyak tantangan, mulai dari medan, ketersediaan air hingga luasnya wilayah yang harus diawasi.
“Banyak sekali tantangannya, namun kami menyadari demikianlah pekerjaan. Semua pasti ada tantangan,” ujarnya.
Di tengah kobaran api yang masih terlihat di kawasan pegunungan perbatasan Inobonto-Langagon, petugas memilih tetap bertahan di sekitar akses jalan. Prioritas mereka saat ini adalah memastikan api tidak meluas menuju permukiman warga.

