ZONAUTARA.com – Lembaga nirlaba No-Trash Triangle Initiative (NTTI) berkolaborasi dengan Lokatana menggelar aksi bersama dalam memerangi darurat sampah plastik di Sulawesi Utara.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui sesi edukasi interaktif dalam gelaran Local Market Loka Waya di Amphitheater Woloan, Tomohon, Sabtu (29/8/2026).
​Melalui kerja sama strategis ini, kedua komunitas mengusung materi bertajuk “Choking on Plastic: Memutus Rantai Polusi Plastik dari Dirimu”, yang difokuskan untuk mengedukasi serta mendorong aksi nyata generasi muda dalam menekan akumulasi sampah anorganik.
​Educator NTTI, Hizkia Rengkung, menegaskan bahwa kolaborasi bersama Lokatana ini menjadi langkah krusial dalam memperluas jangkauan pilar edukasi dan kesadaran publik (education & awareness) yang diusung organisasinya.
​”Sesi sharing ini menjadi bagian dari pilar kedua kami yaitu education & awareness, dengan harapan agar setiap orang yang mendengarkan sharing kami dapat menyadari dampak dari penggunaan plastik setiap hari, dan terdorong untuk melakukan perubahan perilaku,” ujar Hizkia Rengkung saat pemaparan materi.
​Sinergi antara NTTI dan Lokatana ini sukses menarik antusiasme 23 peserta dari kalangan Gen Z dan mahasiswa. Sebagai bentuk pendekatan aplikatif, peserta diajak melakukan pemetaan mandiri (plastic tracking) untuk melacak konsumsi sampah plastik harian mereka selama sepekan.
​Data konsumsi tersebut kemudian ditempelkan langsung pada poster pemantauan berdasarkan kategori jenis plastik guna memberikan gambaran visual atas jejak ekologis masing-masing peserta.
​Kolaborasi ini juga membuka mata para peserta ketika NTTI memaparkan dokumentasi kondisi riil sampah anorganik yang tersaring di No-Trash River Barrier—fasilitas penyaring sampah sungai milik NTTI yang beroperasi di wilayah Manado.
​”Jujur kaget sekali waktu diperlihatkan data dan kondisi sampah anorganik yang tersaring di No-Trash River Barrier sungai Manado. Ternyata realitanya separah itu dan makin sadar kalau kita harus mulai kurangi plastik dari diri sendiri,” ungkap salah satu mahasiswa peserta kegiatan.
​Melalui ruang kolaborasi ini, kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif. Sejumlah peserta pun menyatakan minatnya untuk terlibat lebih jauh dalam gerakan advokasi lingkungan independen serta menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas di daerah masing-masing.

