ZONAUTARA.com — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Sulawesi Utara mencatat ada sekitar 60 hektar kawasan yang terbakar di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih saat musim kemarau saat ini
Angka tersebut, menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulut, Hendrieks Rundengan berdasarkan laporan sementara dari petugas.
“Selesai mopping up ini, nantinya ada petugas yang turun melakukan pemetaan lokasi untuk memastikan besaran hutan yang terbakar dan kemungkinan datanya masih bisa berubah,” ucap Hendrieks saat diwawancarai ZONAUTARA.com di Pos Satu TWA Batuputih, Minggu (6/09/2026) siang.
Hendrieks mengaku, belum bisa memastikan apakah ada satwa yang terdampak atau tidak dari kebakaran tersebut.

“Sejuah ini saya belum mendapat laporan dari petugas yang ada di lapangan,” katanya.
Pun begitu, ia tidak menampik bakal memperpanjang durasi penutupan sementara TWA Batuputih dari pengunjung pasca kebakaran.
“Sebenarnya kami (BKSDA) telah melakukan evaluasi untuk mencabut status penutupan TWA per hari ini. Namun, karena ada kejadian kebakaran kemarin, rencana tersebut kami tunda, sambil melihat kondisi beberapa hari kedepan seperti apa dan akan berkoordinasi dengan pimpinan,” kata Hendrieks.
Pemandu wisata kehilangan pendapatan
Perpanjangan durasi penutupan TWA Batuputih oleh BKSDA Sulawesi Utara tidak hanya membatasi pengunjung yang datang, tapi juga ikut memadamkan asap yang mengepul dari dapur kelompok pemandu wisata.
Ketua Pemandu Wisata Alam Tangkoko Batuputih Ardi Mirontoneng saat ditemui mengaku, ada sebanyak 85 pemandu wisata yang terdaftar kehilangan pendapatan dari penutupan TWA.
“Saat status TWA ditutup sementara, sebenarnya banyak yang terdampak, termasuk kami sebagai pemandu wisata. Apalagi di bulan Juli, Agustus sampai pertengahan September ini merupakan musim paket wisata, kalau ditutup otomatis kami kehilangan pendapatan,” jelasnya.

Untuk mempercepat pencabutan status penutupan TWA, Ardi menjelaskan, telah berhimpun bersama teman-teman pemandu wisata lain dan ikut membantu melakukan penyekatan api dengan alat seadanya.
“Antisipasi api menyebar, kelompok kami terus siaga membantu agar kebakaran ini cepat teratasi dan bisa kembali bekerja mencari nafkah,” jelas Ardi.
Pengelola homestay ikut terpukul
Pembatalan pemesanan kamar secara massal oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara tak terelakkan sejak status TWA Batuputih ditutup akhir Agustus lalu.
Pengelola Resort di Batuputih, Esli Kakauhe membeberkan kurang lebih ada belasan tamu yang melakukan pembatalan pemesanan kamar.

“Untuk menjaga kepercayaan wisatawan, kami harus menyampaikan secara jujur tentang kondisi yang terjadi, terutama ketidakpastian waktu penutupan TWA ini. Kami juga tidak mau menerima uang yang tak berlelah,” katanya.
Kalau berbicara dampak, katanya, pasti banyak berdampak langsung terhadap aktivitas pariwisata dan mata pencaharian masyarakat setempat.
“Ada banyak warga kehilangan pekerjaan, seperti usaha loundry, driver hingga pemandu wisata. Mereka semua itu bergantung pada aktivitas wisatawan, kalau TWA ditutup pasti tak ada pendapatan,” tegasnya.

