ZONAUTARA.com – Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan rencana untuk membatasi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, terutama jenis Pertalite, sebagai bagian dari kebijakan penyaluran subsidi energi yang tepat sasaran. Rencana ini termasuk dalam respons terhadap lonjakan konsumsi Pertalite yang signifikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa untuk mobil pribadi seperti Toyota Avanza yang memiliki kapasitas tangki bahan bakar sekitar 50 liter, konsumsi Pertalite sebesar 50 liter per hari sudah mencukupi untuk menempuh jarak 200 km hingga 300 km. Namun, Bahlil mengakui adanya peralihan pengguna dari BBM non subsidi seperti Pertamax ke Pertalite bersubsidi.
Bahlil menghimbau agar konsumen yang mampu tidak mengambil hak subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah. “Tapi mbok saya mengimbau kepada Saudara-Saudara kita yang mampu, yang apa ya, mobilnya yang bagus, ya kita harus pakai perasaan, lah. Masa kita harus ambil hak subsidi untuk saudara-saudara kita yang berhak gitu lho,” kata Bahlil selepas acara InTechSea 2026 di Jakarta.
Pemerintah saat ini sedang memperbaiki data untuk menentukan masyarakat yang berhak mendapatkan subsidi. Bahlil menekankan pentingnya akurasi data guna memastikan subsidi BBM dan LPG tepat sasaran. “Itu masih di-exercise, karena apa? kita ingin subsidi itu harus tepat sasaran,” ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta.
Tren peningkatan konsumsi Pertalite diakui oleh Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas. Hingga 30 Juni 2026, penyaluran Pertalite mencapai 13,96 juta kiloliter, atau 47,68% dari total kuota APBN. Hal ini akibat penyesuaian harga pada BBM non-subsidi lainnya yang mendorong konsumen beralih ke Pertalite.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

