ZONAUTARA.com – Pada Juni 1582, Francisco de Dueñas, utusan Gubernur Filipina Gonzalo Ronquillo de Peñalosa, mencatat keberadaan cengkih di Kepulauan Sangihe dalam perjalanannya menuju Maluku. Pencatatan ini penting dalam peta perdagangan rempah-rempah Spanyol yang kala itu sedang gencar mengamankan posisi di Asia Tenggara.
Kawasan Sangihe telah dirujuk sebelumnya oleh Antonio Pigafetta pada 1521 sebagai bagian dari rute pelayaran mereka ketika mengikuti ekspedisi Ferdinand Magellan. Namun, baru pada perjalanan Dueñas, Sangihe tercatat sebagai salah satu penghasil cengkih yang potensial.
Francisco de Dueñas diberi tugas untuk menjelajahi wilayah Maluku dan pulau-pulau sekitarnya guna mengumpulkan informasi bagi pemerintah Spanyol. Ia mengirim laporan kepada Raja Felipe II melalui surat yang ditulis pada 19 Juni 1582, menyebutkan bahwa beberapa pulau, termasuk Sangihe, merupakan penghasil cengkih.
Dalam catatan sejarah, nama Sangihe menjadi bagian dari jalur pelayaran yang menghubungkan Filipina, Sulawesi, dan Maluku, sebuah jaringan yang terbentuk jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Penelitian lebih lanjut oleh K.A. Steenbrink dan J.S. Aritonang menyebutkan bahwa kepulauan ini telah menjadi titik penting dalam pergerakan perdagangan dan misi keagamaan saat itu.
Pada tahun sebelumnya, 1581, Dueñas bahkan sudah mencapai Siau, salah satu pulau di gugusan Sangihe, dan bertemu dengan Raja Siau, Jerónimo I Pasumah. Ini menunjukkan bahwa pengaruh Spanyol di wilayah ini sudah mulai terjalin sebelumnya, dan Sangihe memiliki potensi strategis yang besar bagi kebijakan kolonial di masa depan.
Diolah dari laporan Tirto.id.

