ZONAUTARA.com — Burung Indonesia menggelar kegiatan Kelas Konservasi bertajuk “Menjaga Keanekaragaman Hayati Merawat Kearifan Budaya” di Kantor Resort GMIST, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Jumat (25/6/2026) pekan lalu.
Kegiatan edukatif yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Adat Dalumatehu ini melibatkan puluhan pelajar jenjang SMA dan SMK sederajat se-Kepulauan Sangihe, didampingi kepala sekolah dan guru.
Sangihe Program Coordinator Burung Indonesia, Ganjar Cahyo Aprianto, menegaskan bahwa Sangihe memegang peranan krusial dalam peta keanekaragaman hayati global.
Wilayah ini tercatat memiliki enam kawasan kunci keanekaragaman hayati (Key Biodiversity Area/KBA) dan dua area penting bagi burung (Important Bird Area/IBA).
“Di Sangihe saat ini ada 10 jenis burung endemik, dan tujuh di antaranya berstatus terancam punah. Karena itu, posisi ekologis Sangihe sangat penting di mata dunia,” ujar Ganjar saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Ganjar menjelaskan, kelas konservasi ini dirancang untuk menjembatani jurang pengetahuan antargenerasi. Praktik hidup berkelanjutan yang diwariskan para leluhur Sangihe dinilai mulai terkikis di kalangan generasi muda.
“Leluhur Sangihe sejak dahulu hidup berdampingan secara erat dan memanfaatkan alam secara berkelanjutan. Namun, generasi muda saat ini hampir terputus pengetahuannya. Lewat forum ini, kami mempertemukan para pelajar dengan tokoh adat agar praktik kearifan lokal dalam menjaga alam bisa terus lestari,” tutur Ganjar.
Kupas kearifan lokal hingga ancaman limbah
Forum edukasi ini menghadirkan tiga narasumber yang membedah isu kelestarian dari berbagai sudut pandang.
Riedel Baetels Sipir mengupas pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat Sangihe sebagai fondasi pelestarian alam bagi generasi muda. Sementara itu, pemerhati lingkungan Susan Ria Paparang memaparkan kekayaan flora dan fauna endemik yang menjadi identitas kebanggaan kepulauan tersebut.
Dari perspektif sains, akademisi Politeknik Nusa Utara (Polnustar), Ely John Karimela, membeberkan hasil riset terkait kerentanan ekosistem pulau kecil terhadap polutan berbahaya. Ely secara khusus mengingatkan ancaman racun arsenik yang dampaknya dinilai jauh lebih mematikan bagi kesehatan ekosistem dan manusia dibanding limbah merkuri.
Edukasi lintas disiplin ini diharapkan mampu menumbuhkan kepekaan kritis para siswa, sehingga mereka siap menjadi garda terdepan dalam merespons potensi kerusakan lingkungan di daerahnya.

Antusiasme generasi muda
Kegiatan ini disambut antusias oleh para peserta, salah satunya Reifan Maniloahe, Ketua OSIS SMK Negeri 1 Tahuna. Reifan menilai materi yang disampaikan membuka wawasan baru mengenai ketergantungan mutlak manusia terhadap daya dukung alam.
“Banyak hal baru yang saya pelajari, terutama bagaimana mengelola daerah tanpa merusak ekosistem. Kita disadarkan bahwa alam bisa tetap hidup tanpa manusia, sebaliknya manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa alam,” kata Reifan.
Menurut Reifan, ruang diskusi lintas sekolah semacam ini memberi kesempatan bagi anak muda Sangihe untuk saling bertukar gagasan sekaligus memperkuat rasa kepemilikan terhadap tanah kelahiran.
“Harapannya, forum edukasi seperti ini rutin digelar untuk terus memotivasi anak muda. Sebagai sesama orang Sangihe, mari kita kembangkan daerah ini dengan tetap menjaga kelestarian dan identitas lokal yang kita miliki,” tutupnya.

