ZONAUTARA.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, telah memastikan percepatan realisasi bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat kunjungan kerja ke wilayah Flores untuk meninjau progres penyediaan hunian sementara dan hunian tetap bagi masyarakat terdampak, Suharyanto menekankan pentingnya percepatan pemulihan bagi korban bencana. Populasi terdampak gempa di NTT mencapai 1,9 juta jiwa.
Kunjungan ini diawali di Kabupaten Sikka, di mana Suharyanto beserta rombongan meninjau hunian sementara percontohan di Maumere, tepatnya di Lapangan Pusat Jajanan dan Cenderamata Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok. Kepala BNPB didampingi Wakil Bupati Sikka dan jajaran Forkopimda setempat berdialog dengan warga penyintas terkait mekanisme dan detail proses bantuan hunian.
Penyaluran bantuan merujuk pada SK Bupati Sikka Nomor 441/HK/2026, dengan 1.055 Kepala Keluarga (KK) sebagai penerima. Suharyanto menegaskan, “Untuk warga terdampak gempa NTT yang rumahnya rusak berat, pemerintah menyediakan skema hunian sementara yang dilanjutkan dengan pembangunan hunian tetap. Terhadap warga yang memilih tidak tinggal di huntara, sambil menunggu hunian tetapnya dibangun pemerintah, maka akan mendapat bantuan Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan.”
Setelah di Maumere, rombongan melanjutkan kunjungan ke Dusun Waidoko, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur. Di sana, Suharyanto meninjau pembangunan hunian tetap Relokasi Mandiri untuk korban Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur serta Ketua DPRD setempat.
Dalam dialog interaktif, Suharyanto menegaskan bahwa masyarakat tidak akan dikenakan biaya dalam pembangunan hunian tetap, sebagai bentuk kehadiran negara. “Apabila ada pungutan atau dikenakan biaya maka lapor langsung ke saya,” ia memperingatkan. BNPB juga menyetujui penggunaan armada lokal untuk distribusi material pembangunan serta memastikan dukungan alat berat ekskavator. Kegiatan ditutup dengan acara makan siang dan pemberian bingkisan bagi anak-anak, yang mencerminkan kebersamaan dan penguatan moril para penyintas.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

