ZONAUTARA.com – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendesak perusahaan migas untuk segera melanjutkan pengembangan proyek hulu migas yang belum berjalan. Langkah ini dianggap penting guna menahan penurunan produksi migas nasional. Proyek mangkrak ini diminta untuk dieksekusi agar setiap tahun Indonesia tidak mengalami penurunan produksi secara alamiah, mengingat banyak lapangan migas di dalam negeri yang sudah tua.
Bahlil menekankan pentingnya percepatan proyek setelah perusahaan menyelesaikan kegiatan eksplorasi dan mendapatkan persetujuan Rencana Pengembangan (Plan of Development/POD). “Jadi kepada Bapak Ibu yang sudah memegang konsesi, sudah selesai POD, tapi belum jalan-jalan, saya meminta untuk segera dieksekusi, mohon bantuannya,” ungkapnya dalam acara Forum Ekonomi, Keuangan dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (FOREK Hulu Migas 2026), dikutip Minggu (1/11/2026).
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan jika konsesi tidak segera dikembangkan menjadi tahap produksi, maka perusahaan harus mengembalikan konsesi kepada negara. “Kalau tidak mampu, serahkan konsesi itu kepada negara, nanti kita akan menawarkan kepada siapa yang bisa mengerjakan, termasuk Pertamina. Sekalipun Pertamina punya negara, saya tidak meminta untuk kalian kerjanya lambat, harus cepat,” katanya.
Dia juga menyerukan agar Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) mempercepat lelang dan penandatanganan Kontrak Kerja Sama (KKS) migas. Bahlil menyatakan setidaknya ada 118 blok migas baru berpotensi untuk dilelang pemerintah. Ia juga meminta perusahaan melaporkan adanya permainan di bawah tangan dalam pendaftaran lelang atau perizinan.
Lebih lanjut, Bahlil menyoroti kebutuhan mendesak peningkatan produksi migas Indonesia. Negara ini memerlukan 1,5-1,6 juta barel per hari, namun produksi saat ini hanya sekitar 600.000 barel per hari. Transparansi dan kecepatan dalam proses pengerjaan diperlukan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.
