Babak baru penolakan IPLT di TPA Sumompo, masyarakat gelar aksi damai

Penulis: Eliana Gloria
Editor: Redaktur
Salah satu bentuk penolakan masyarakat lingkar TPA Sumompo, atas pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja.

ZONAUTARA.com – Masyarakat lingkar Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Sumompo, Manado, Sulut, menolak keras pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT).

Rencana dibangunnya IPLT di area TPA Sumompo, bermula dari sejumlah aktivitas mencurigakan yang dirasakan oleh masyarakat.

Acap kali masyarakat menanyakan kepada pihak pemerintah kelurahan soal adanya rencana pembangunan, namun tidak kunjung diberi jawaban.

Sementara itu, informasi rencana pembangunannya diketahui dari laman resmi Pemerintah Kota Manado bahwa peletakan batu pertama pembangunan IPLT sudah dilakukan pada Selasa (29/07/2025) silam.

“Sejak itu tidak pernah ada sosialisasi diberikan kepada warga,” ujar Yasri Badoa saat ditemui tim Zonautara.com




Atas dasar itu, masyarakat menggeruduk kantor DPRD Kota Manado dan menemukan fakta mengejutkan.

“Ternyata (anggota) dewan yang berasal dari dapil kami mengaku tidak tahu-menahu akan proyek pembangunan ini,” ungkapnya saat dikonfirmasi oleh Zonautara.com

Hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang diperoleh adalah Komisi III DPRD Manado yang membidangi pembangunan daerah akan mengusahakan rekomendasi untuk peninjauan ulang proyek IPLT ini.

Namun nihil hingga hari ini, rekomendasi tidak didapatkan.

“Kami warga menunggu tembusan rekomendasi diberitahukan kepada kami. Komisi III dan beberapa aleg turun lapangan untuk berdialog dengan kami pada Senin (01/09/25) lalu langsung di lokasi proyek yang ada di TPA Sumompo, tapi sampai hari ini tembusan rekomendasi itu belum sampai kepada kami,” ucap Yasri.

Lebih lanjut, hasil temuan di lapangan itu malah membuat amarah masyarakat melonjak karena pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu anggota DPRD Manado.

“Warga sebenarnya tak menolak pembangunan IPLT asalkan tetap memperhatikan dampak sosial dan lingkungan,” seperti dikutip dari laman MediaSulut.co.

Pernyataan itu sontak dibantah oleh perwakilan masyarakat, Yasri Badoa.

“Sudah jelas kami menolak. TPA Sumompo saja dijanjikan pada kami untuk dipindahkan. Lalu IPLT ini modelnya kan bak terbuka, segala kami diiming-imingi bahwa tinja ini akan diolah menjadi air bersih. Apa tidak gila?” terang Yasri.

Diketahui, upaya-upaya manipulatif juga dilakukan dalam pembangunan IPLT. Beberapa alat berat diturunkan sembunyi-sembunyi di lokasi proyek.

“Sebenarnya tempat tinggal saya agak lumayan dengan TPA, tapi kami sudah terhubung di grup obrolan. Malam itu sekitar jam 11, ada warga yang tinggal di area gerbang TPA menelepon saya untuk segera datang karena ada alat berat yang diturunkan. Jadi di video yang beredar saya adang-adangan dengan eskavator, lama saya berdialog dengan operator,” terang Yasri.

Ditelusuri, di beberapa sumber yang tidak ingin menyebutkan identitasnya bahwa sebagai masyarakat yang hidup di TPA sudah merasa sangat dirugikan dari aspek kesehatan, aspek sosial.

“Ada masyarakat yang datang pada saya menceritakan kejadian memalukan. Sebagai orang tua harusnya bangga bahkan dibelikan baju baru untuk hari pertama kerja tapi karena usai dicuci dan dijemur, karena kena angin di TPA ternyata bau itu menempel dan anaknya dipermalukan di tempat kerja. Jadi ini sudah masalah sosial lagi,” cerita Yasri dengan berlinang.

Masyarakat selama ini merasa tidak berdaya dan powerless untuk bersuara. Dengan aksi yang dilakukan Yasri melalui media sosial facebook telah menggerakan semangat dan keberanian masyarakat terutama mama-mama yang ada.

Ditunjuknya Yasri sebagai koordinator adalah simbol perlawanan yang egalitis. Sebanyak 1.072 petisi telah ditanda tangani secara fisik diperoleh dari naik turun rumah oleh Yasri Badoa, Novita Sikome, Jimi Tindi, Freddy Roringkon dan beberapa warga lainnya.

“Jadi 4 tuntutan sudah kami siapkan untuk aksi damai, kami menuntuk penolakan pembangunan IPLT, hentikan operasional dan pindahkan TPA Sumompo, buka ruang terbuka hijau untuk pemulihan ekologis dan aktifkan pasar rakyat Buha, karena itu sudah jadi tempat kos-kosan yang tidak tahu digawangi oleh siapa” tutupnya.

***

TAGGED:
Follow:
Daydreamer, typically ENTJ, compassionate listeners, long-life learner.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com