ZONAUTARA.com — Bencana banjir bandang menerjang Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin (5/1/2026) dini hari sekitar pukul 02.30 Wita. Peristiwa nahas ini menyebabkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia, 20 orang mengalami luka-luka, dan lima unit rumah warga dilaporkan hanyut terseret arus. Ratusan warga lainnya terpaksa mengungsi akibat dampak kerusakan parah yang melanda tiga kecamatan.
Banjir bandang tersebut disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah itu dalam waktu cukup lama. Bencana melanda Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat. Material batuan dan lumpur memenuhi jalanan serta meluber ke bangunan warga, sehingga memutus jaringan listrik dan telekomunikasi di wilayah terdampak.
Tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro, dan tim SAR masih terus melakukan evakuasi serta pencarian korban.
Informasi yang dikumpulkan di lapangan korban meninggal dunia dalam bencana ini telah mencapai belasan orang. Di Kecamatan Siau Timur, korban meninggal yakni Juanita Erlina Bangsa (P, 21), El Kamanangan (L, 4), Rakmon Bangsa (L), Joan Bangsa (P, 20), Florensi Bawonte (P, 72), Santi Diamanis (P, 34), Angkol Tamalongehe, Kairi Kansil (L, 2 bulan), Yance Tamalongehe (L), dan Lorensi Bawolce (P).
Sementara itu, di Kecamatan Siau Barat Selatan korban meninggal adalah Rafles Kobis dan Hermina Maningide serta Alvian Anise (L, 23). Adapun di Kecamatan Siau Barat, dua korban jiwa yang ditemukan yakni Alixius Olongsongke (L) dan Silvia Pamondolang (P).
Selain korban meninggal, setidaknya satu orang atas nama Azriel C. Tatambihe dari Siau Barat Selatan masih dalam pencarian. Data ini melengkapi laporan awal BNPB yang menyebutkan lima orang dinyatakan hilang.

Sementara itu puluhan orang dilaporkan mengalami luka-luka. Sebanyak 102 jiwa saat ini mengungsi di gedung GMIST Bethbara. Kerugian material juga dilaporkan cukup signifikan, dengan lima unit rumah dinyatakan hilang atau hanyut, tiga unit rumah rusak berat, serta satu bangunan pastori rusak berat di Kampung Laghaeng Lindongan I, Kecamatan Siau Barat Selatan.
Di Kampung Peling Lindongan II, Kecamatan Siau Barat, tiga unit rumah juga dilaporkan hilang terseret banjir bandang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., menyampaikan bahwa tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan masih terus melakukan evakuasi serta pencarian terhadap korban yang dilaporkan hilang. Ia menyebutkan kendala di lapangan terutama terkait mobilisasi sumber daya akibat penyesuaian jadwal penyeberangan kapal menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Wilayah terdampak banjir bandang meliputi Kelurahan Paniki, Kelurahan Paseng, Kampung Bumbiha, Kampung Peling, Kampung Laghaeng, Kampung Batusenggo, Kelurahan Ulu, Lindongan III, serta Kelurahan Bahu. BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro bersama unsur terkait terus melakukan pendataan lanjutan, penanganan darurat, serta koordinasi evakuasi dan pencarian korban.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir bandang dan longsor susulan, mengingat kondisi cuaca yang masih tidak menentu.
Pulau Siau, yang merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Sitaro, dikenal dengan keberadaan Gunung Api Karangetang yang masih aktif. Jarak tempuh dari Pelabuhan Manado ke Pulau Siau sekitar lima jam menggunakan kapal cepat. Karakteristik kepulauan membuat Sitaro menjadi daerah rawan bencana.


