ZONAUTARA.com – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) buka suara setelah mendapat kecaman atas pembubaran acara nonton bareng (nobar) film dokumenter ‘Pesta Babi’ di Ternate, Maluku Utara. Komandan Kodim 1501/Ternate, Kolonel Inf Jani Setiadi, menyebut bahwa pembubaran ini dilakukan karena masalah perizinan serta isu SARA yang menyertainya. Acara tersebut dianggap tidak memiliki izin resmi meskipun melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama beberapa organisasi mahasiswa.
Kolonel Jani Setiadi mengatakan, “Selain aspek perizinan, aparat juga mencermati materi dan tema kegiatan yang dinilai sensitif bagi masyarakat. Penggunaan judul film dan spanduk bertuliskan ‘Pesta Babi’ dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memancing reaksi negatif di tengah masyarakat yang majemuk, terlebih apabila dikaitkan dengan isu SARA maupun konflik sosial yang pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya, Selasa (12/5).
Jani menambahkan bahwa TNI tetap menghargai kebebasan berpendapat dan ruang diskusi, tetapi keselamatan serta ketenangan masyarakat menjadi prioritas. “Kami ingin memastikan Ternate tetap aman dan nyaman bagi siapa saja. Oleh karena itu, kami melakukan pendekatan secara humanis kepada pihak penyelenggara. Kami mengimbau agar kegiatan ini tidak dilanjutkan demi mencegah isu SARA yang dapat merusak persaudaraan kita di Kota Rempah ini,” tegas Jani.
Lebih lanjut, Jani menyebut TNI tidak melarang diskusi asalkan sesuai dengan prosedur dan tidak menimbulkan potensi konflik. “Hingga saat ini, aparat keamanan bersama unsur terkait masih terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak penyelenggara guna memastikan situasi tetap aman dan terkendali,” jelasnya.
Kegiatan nobar tersebut diadakan oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara dan AJI Kota Ternate di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, pada Jumat (8/5) pukul 20.00 WIT. Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, menyatakan kehadiran aparat sejak awal acara menimbulkan rasa takut dan tekanan psikologis, serta mengingatkan pada praktik pembungkaman masa lalu.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

