ZONAUTARA.com – Fenomena iklim El Nino diprediksi akan muncul lebih cepat dari yang diharapkan pada tahun 2026. Prediksi ini dikeluarkan oleh prakiraan federal Amerika Serikat, yang menunjukkan kemungkinan adanya pola iklim yang kuat secara historis, berpotensi memicu perubahan cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Menurut United States Geological Survey (USGS), El Nino ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Fenomena ini biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan memiliki pengaruh besar terhadap pola cuaca global.
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) telah mengumumkan bahwa fase La Nina resmi berakhir. Saat ini, pemodelan iklim menunjukkan transisi cepat menuju El Nino dengan probabilitas yang sangat tinggi.
Matthew Sittel, asisten klimatolog negara bagian di Kansas State University, menyebutkan ada kemungkinan terjadinya kondisi Super El Nino. Fenomena ini terjadi ketika suhu meningkat setidaknya 2 derajat celsius di atas normal. Sejak 1950, kejadian Super El Nino tercatat baru terjadi empat kali di dunia.
Meskipun El Nino yang lebih kuat tidak selalu berarti cuaca lebih ekstrem, NOAA memperkirakan ada peluang 50% bahwa El Nino tahun ini akan berkembang menjadi kategori kuat. Dampak utama biasanya dirasakan antara Oktober hingga Mei.
Para ahli menekankan bahwa pembentukan El Nino memerlukan interaksi kompleks antara suhu permukaan laut yang hangat dengan angin pasat (trade winds). Interaksi ini menciptakan putaran yang memperkuat pemanasan. Kerumitan interaksi atmosfer ini membuat prediksi El Nino, terutama pada musim semi, menjadi tantangan tersendiri bagi para ilmuwan iklim.
Masyarakat dan sektor terkait seperti pertanian serta manajemen bencana diimbau untuk mulai memantau perkembangan fenomena ini, mengingat dampaknya dapat memengaruhi ketahanan pangan dan pola bencana hidrometeorologi secara global.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

