ZONAUTARA.com – Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan segera memulai kegiatan berkeliling Indonesia pada Juni 2026 mendatang. Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, mengungkapkan bahwa lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). “Bocorannya Pak Jokowi akan ke NTT mengunjungi budi daya rumput laut dan menyapa masyarakat NTT,” kata Freddy kepada media, Senin (18/5/2026).
Freddy menambahkan bahwa daftar lokasi yang akan dikunjungi oleh Jokowi masih bersifat dinamis dan dapat berubah. Namun, NTT saat ini menjadi prioritas untuk kunjungan perdana. Freddy juga menjelaskan bahwa dalam setiap kunjungan, Jokowi akan didampingi oleh pengurus Projo setempat. “Biasanya dalam kunjungan-kunjungan Pak Jokowi ke daerah, kami Projo pasti mendampingi beliau. Tentunya Projo daerah di mana Pak Jokowi berkunjung ya,” jelasnya.
Alasan di balik perjalanan keliling Indonesia ini adalah untuk menjaga kedekatan emosional Presiden Jokowi dengan rakyat. Menurut Freddy, Jokowi ingin menunjukkan bahwa meski tidak lagi menjabat sebagai Presiden, semangatnya untuk melihat langsung kondisi rakyat tetap tidak berubah. “Visi besar Pak Jokowi kembali keliling Indonesia tentu untuk tetap menjaga koneksi emosional dengan rakyat, mempertahankan citra sebagai pemimpin rakyat, dan menunjukkan bahwa dirinya tidak berubah meski sudah tidak menjabat,” ungkap Freddy.
Freddy mengatakan bahwa kedekatan emosional sering kali lebih kuat dari jabatan formal dalam politik Indonesia. Oleh karena itu, Jokowi terus melakukan blusukan untuk menjaga loyalitas relawannya dan hubungan dengan berbagai pihak di tanah air. “Pak Jokowi harus tetap menjaga loyalitas relawan, mempertahankan komunikasi dengan kepala daerah, pengusaha, tokoh masyarakat, dan kelompok akar rumput, memastikan pengaruh politiknya tetap relevan,” tambah Freddy.
Ketika ditanya apakah agenda blusukan ini terkait dengan Pemilu 2029, Freddy memberikan jawaban diplomatis. Menurutnya, dalam kehidupan demokrasi, sah-sah saja jika momen ini digunakan Jokowi untuk mendukung gagasan atau tokoh politik tertentu. “Tentunya sah-sah saja dalam kehidupan demokrasi kalau misalnya nanti beliau mendukung gagasan tertentu, tokoh tertentu, membantu persatuan bangsa atau memberi motivasi dan arahan kepada relawan atau masyarakat,” jelas Freddy.
Diolah dari laporan Detik.

