ZONAUTARA.com – Pemadaman massal listrik yang melanda wilayah Sumatra sejak Jumat (22/5) sore hingga Minggu (24/5) belum mempengaruhi kenaikan harga kebutuhan pokok di Sumatra Utara. Namun, menurut ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, gangguan listrik dalam durasi panjang dapat memicu volatilitas harga komoditas pangan. “Dugaan sementara mungkin karena blackout terjadi menjelang akhir pekan, bukan di hari kerja yang padat aktivitas ekonomi,” ujar Gunawan.
Gunawan menjelaskan bahwa mati lampu massal mempengaruhi psikologi pasar dan dapat mengganggu transaksi jual-beli di pusat distribusi besar di Sumut, seperti Pasar Induk Lau Cih dan Pasar MMTC. Tanpa dukungan genset, gangguan listrik dapat menyebabkan harga kebutuhan pokok bergerak liar. “Kemampuan pedagang besar dalam memantau peredaran barang menjadi terganggu akibat putusnya informasi produksi. Alhasil, harga bisa bergerak fluktuatif saat pemadaman terjadi,” jelasnya.
Gunawan juga mengingatkan potensi dampak fatal bagi peternak ayam modern yang menggunakan teknologi berbasis listrik untuk mengatur suhu ruangan. Pemadaman listrik dapat menyebabkan kematian massal ternak dan mendorong kenaikan harga daging ayam. “Jika blackout berlangsung lebih lama, bisa dipastikan akan mendorong laju tekanan inflasi di wilayah terdampak, khususnya Sumatra Utara,” tambahnya.
Namun, blackout juga memberikan dampak positif bagi sektor tertentu. Ada peningkatan penjualan di rumah makan dan restoran serta toko alat berat yang menjual dan memperbaiki genset. Hal ini disebabkan oleh banyak warga yang memilih makan di luar karena kendala memasak di rumah.
Peristiwa ini memberi gambaran tentang bagaimana ketidakstabilan pasokan listrik dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan warga di wilayah terdampak.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

