ZONAUTARA.com – Salah satu kekhawatiran terbesar yang sering muncul di benak pasien kanker dan keluarganya saat mendengar istilah “perawatan paliatif” adalah anggapan bahwa pengobatan medis aktif, seperti kemoterapi, harus segera dihentikan. Namun, secara medis, anggapan tersebut adalah keliru. Memulai perawatan paliatif kanker tidak berarti harus berhenti kemoterapi. Sebaliknya, kedua perawatan dapat berjalan bersamaan untuk memberikan hasil terbaik bagi pasien.
Perawatan paliatif adalah pendekatan medis yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien dengan meringankan gejala fisik, psikologis, dan spiritual. Dalam protokol kesehatan modern, perawatan paliatif idealnya dimulai sejak dini, bahkan sesaat setelah diagnosis kanker ditegakkan.
Perawatan paliatif dan kemoterapi sering dilakukan bersamaan karena sifat dinamis dari perawatan paliatif itu sendiri. Jika tujuan pengobatan berubah dari kuratif menjadi suportif, tim paliatif menyesuaikan fokusnya tanpa harus memutus dukungan medis yang sedang berjalan. Keputusan untuk menghentikan kemoterapi biasanya bukan karena perawatan paliatif dimulai, tetapi berdasarkan evaluasi klinis antara dokter spesialis onkologi, tim paliatif, dan pasien.
Selain itu, memulai perawatan paliatif tidak berarti mengakhiri harapan atau menghentikan pengobatan medis. Justru, perawatan paliatif adalah mitra dari kemoterapi. Dengan manajemen nyeri dan gejala yang baik, pasien kanker memiliki peluang lebih besar untuk menjalani pengobatan utama dengan lebih nyaman dan bermartabat.
Umumnya, layanan paliatif yang terintegrasi di rumah sakit ditanggung oleh asuransi atau BPJS Kesehatan selama sesuai dengan indikasi medis. Keputusan untuk integrasi ini diambil melalui diskusi multidisiplin antara dokter onkologi, dokter paliatif, pasien, dan keluarga. Bahkan, fokus pengobatan dapat kembali ke kuratif jika kondisi pasien membaik. Perawatan paliatif juga tidak terbatas di rumah sakit, dapat dilakukan di rumah, puskesmas, atau hospice.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

