ZONAUTARA.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan domestik setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dikuasai Partai Republik, partainya sendiri, meloloskan resolusi yang menghalangi Trump mengeskalasi perang dengan Iran. Resolusi tersebut, yang didukung oleh 215 anggota DPR dan ditentang oleh 208 lainnya, mengharuskan Trump memperoleh persetujuan DPR sebelum melakukan aksi militer lebih lanjut terhadap Iran.
Empat anggota Partai Republik, yaitu Thomas Massie, Brian Fitzpatrick, Warren Davidson, dan Tom Barrett, yang berasal dari negara bagian penting dalam pemilihan umum, membelot mendukung resolusi yang diusulkan oleh Demokrat. Kondisi ini memperlihatkan potensi perubahan dalam peta politik jelang Pemilu Sela November mendatang, yang dapat mengubah konfigurasi kekuatan di legislatif AS dan mempengaruhi masa depan pemerintahan Trump.
Resolusi ini akan diteruskan ke Senat, tempat beberapa senator Partai Republik juga dikenal sering membangkang terhadap kebijakan Trump. Sebelumnya, empat senator Republik telah mendukung inisiatif Demokrat untuk memaksa Trump mendapatkan otorisasi dari legislatif sebelum mengambil tindakan militer terhadap Iran. Kendati tidak mengikat secara hukum, dukungan dari Partai Republik terhadap resolusi ini menunjukkan kurangnya dukungan untuk upaya politik Trump terkait Iran.
Selain itu, resolusi ini menggarisbawahi pandangan publik di AS yang umumnya menolak perang dengan Iran, terutama karena alasan yang tidak jelas dan dampak buruk bagi ekonomi nasional. Berdasarkan jajak pendapat University of Maryland Critical Issues Poll, mayoritas, yaitu 56 persen warga AS, menganggap Perang Iran merugikan. Hanya 12 persen yang percaya bahwa perang tersebut bermanfaat.
Lebih lanjut, hanya 16 persen responden yang merasa AS telah memenangkan perang melawan Iran, berbanding dengan 38 persen yang menyatakan sebaliknya. Hal ini menambah tekanan terhadap Trump yang semakin terlihat terpojok dalam kebijakan luar negerinya terhadap Iran.
Diolah dari laporan Antara.

