ZONAUTARA.com – Iran telah menunjukkan kemampuannya dalam mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting untuk perdagangan minyak dunia. Menurut sejumlah analis, pengaruh ini dapat bertahan meski ada konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. “Yang telah ditunjukkan Iran adalah bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menutup Selat Hormuz dan tetap menutupnya, bahkan di tengah bombardir besar-besaran AS dan Israel. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diambil dari mereka,” ujar Analis Senior Eurasia Group Gregory Brew.
Meski ada prospek kesepakatan antara Washington dan Teheran, para pakar menilai posisi tawar baru Iran dalam sektor energi tetap signifikan. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada pasar energi internasional.
Dampaknya juga terasa di sektor lain. Ketidakstabilan di Selat Hormuz bisa mengganggu pasokan komoditas penting seperti pupuk dan bahan bakar pesawat. Iran bahkan telah membentuk Persian Gulf Strait Authority untuk mengawasi aturan baru transit kapal.
AS telah memberlakukan sanksi terhadap PGSA dan melarang kesepakatan dengan Iran untuk jalur aman. Namun beberapa pedagang minyak tetap bertransaksi dengan Iran demi menjaga pasokan minyak. Wakil Presiden Senior Wood Mackenzie Alan Gelder menekankan pentingnya normalisasi arus kapal di selat itu.
Ibaratnya, apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir tahun, harga minyak bisa mendekati US$200 per barel. Ini akan menjadi preseden krisis ekonomi global. Dampak biaya kapal tanker mencapai US$2 juta, atau Rp36 miliar, dapat menambah harga minyak hingga US$1 per barel.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

