ZONAUTARA.com – Skotlandia meraih kemenangan kedua mereka dalam sejarah Piala Dunia setelah mengalahkan Haiti dengan skor 1-0 di Stadion Boston, Minggu (14/6/2026) waktu setempat. Gol tunggal yang dicetak oleh John McGinn menjadi penentu kemenangan, membawa Skotlandia memuncaki Grup C.
Kemenangan ini menjadi sorotan karena lebih dari 10.000 hari telah berlalu sejak Skotlandia terakhir kali berpartisipasi di Piala Dunia. Meski meraih tiga poin, tim asuhan Steve Clarke dihadapkan pada tantangan berat dengan Maroko dan Brasil yang akan datang, sehingga satu gol ini mungkin tidak cukup untuk memastikan mereka lolos dari fase grup.
Di babak pertama, Skotlandia menampilkan permainan yang cukup menarik namun juga memberikan peluang bagi Haiti untuk menyerang. Haiti, meskipun tidak mampu mencetak gol, menunjukkan ancaman yang nyata. Clarke sebelumnya menggambarkan Haiti sebagai tim yang dinamis, namun penampilan mereka lebih terlihat tidak konsisten.
Dalam pertandingan ini, para pendukung Skotlandia, yang dikenal sebagai Tartan Army, menciptakan suasana meriah di stadion. Mereka mengenakan seragam away berwarna merah muda yang menjadi daya tarik tersendiri. Suara lagu Loch Lomond menggema sebelum pertandingan dimulai, menambah semarak suasana.
Skotlandia hampir mencetak gol lebih awal melalui Scott McTominay, namun tendangannya mengenai tiang gawang. Gol yang dicetak McGinn terjadi setelah sebuah serangan yang melibatkan Che Adams dan Ben Gannon-Doak. Meskipun gol tersebut terlihat tidak sempurna, Skotlandia tetap merayakannya.
Di babak kedua, meskipun Skotlandia tampil dominan, Haiti tetap berusaha menyerang. Beberapa peluang tercipta, termasuk tendangan dari Ruben Providence yang berhasil dihentikan oleh kiper Angus Gunn. Namun, Skotlandia tampak kesulitan untuk menambah keunggulan dan harus tetap waspada terhadap serangan balik Haiti.
Seiring berjalannya waktu, tekanan semakin meningkat. Skotlandia harus memperbaiki performa mereka di pertandingan berikutnya jika ingin memastikan tempat di babak selanjutnya. McGinn dan kawan-kawan harus lebih berbahaya saat menghadapi tim-tim yang lebih kuat di fase grup mendatang.
Sumber: The Guardian

