ZONAUTARA.com – Tanda-tanda semakin jelas bahwa Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mungkin akan mengumumkan rencana pengunduran dirinya dalam waktu dekat, seiring dengan perubahan suasana di dalam pemerintahan. Pemerintah telah menyaksikan perubahan kondisi dalam 48 jam terakhir, yang mempengaruhi pandangan tentang masa depan kepemimpinan ini.
Beberapa sumber pemerintah meyakini bahwa Perdana Menteri dapat mengumumkan jadwal pengunduran dirinya secepatnya pada hari Senin. Ungkapan dari Menteri Bisnis, Peter Kyle, kepada BBC pagi ini menekankan bahwa Perdana Menteri akan melakukan “apa yang terbaik bagi negara”. Menurutnya, Sir Keir sedang memikirkan tantangan yang dihadapinya dan realita politik yang ada.
Tantangan bagi Perdana Menteri telah semakin bertambah dari waktu ke waktu. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh berargumen bahwa masalahnya bukan pada partai, melainkan pada pemimpinnya. Hasil pemilihan sela di Makerfield tampaknya akan menjadi pukulan terakhir. Kemenangan Andy Burnham yang telak menjadi kesempatan bagi mereka yang ingin mengajukan tantangan baru dalam kepemimpinan partai.
Pernyataan mengenai kemungkinan Wes Streeting, mantan Menteri Kesehatan, sebagai calon pemimpin baru juga menjadi perhatian. Namun, ada kemungkinan adanya kesepakatan antara calon pemimpin untuk menyusun peta jalan masa depan. Namun, mereka perlu mendapatkan dukungan dari setidaknya 81 anggota parlemen untuk maju dalam pemilihan kepemimpinan.
Waktu pergantian perdana menteri baru juga menimbulkan perdebatan di dalam Partai Buruh. Beberapa pendukung Burnham menginginkan dia mengambil alih saat konferensi tahunan Partai Buruh pada akhir September, sementara yang lain berpendapat bahwa waktu transisi tiga bulan terlalu lama dan akan menghambat pemerintahan.
Selain itu, pemilihan kabinet baru juga menjadi perbincangan hangat. Posisi Kanselir diperkirakan dapat menjadi milik Ed Miliband atau Shabana Mahmood. Namun, Mahmood kemungkinan akan tetap berada di posisinya saat ini jika Burnham mengambil alih kepemimpinan. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan di dalam partai terkait arah kebijakan yang lebih condong ke kiri jika Miliband terpilih sebagai kanselir.
Diolah dari laporan BBC News.

