ZONAUTARA.com – Konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung lebih dari 100 hari dikabarkan mengakibatkan dampak ekonomi dan militer yang luas bagi Washington. Meskipun Presiden Donald Trump mengumumkan kemenangan dengan tercapainya nota kesepahaman damai baru, data menunjukkan kerugian besar di sektor domestik Amerika Serikat.
Mengutip CNN International, penandatanganan kesepakatan damai ini resmi menghentikan perang yang telah mengorbankan 13 tentara AS dan lebih dari 7.500 warga sipil di Timur Tengah. Trump menyampaikan klaim tentang keuntungan ekonomi pascaperang melalui akun media sosialnya, “Terima kasih kembali! Minyak kini kembali mengalir, Iran tidak akan pernah bisa memiliki senjata nuklir (dunia akan aman!), pasar saham melonjak, lapangan kerja mencetak rekor, dan harga-harga berjatuhan. Negara kita kuat, aman, dan dihormati tidak seperti sebelum-sebelumnya.”
Namun, dampak negatif dari perang ini masih berlanjut. Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), biaya langsung perang yang harus ditanggung Departemen Pertahanan AS mencapai sekitar US$40 miliar (Rp 712 triliun). Angka tersebut belum termasuk biaya operasional rutin yang sudah dialokasikan dalam anggaran tahun fiskal 2026. Pihak Pentagon juga mengajukan dana tambahan darurat sebesar US$80 miliar (Rp1.424 triliun).
Salah satu pengeluaran terbesar adalah untuk amunisi, menyerap anggaran hingga US$26 miliar (Rp462,8 triliun) terutama untuk penggunaan senjata jarak jauh berpemandu presisi. “Komponen biaya terbesar adalah amunisi, terutama karena tingginya penggunaan senjata jarak jauh yang sangat canggih dan berbiaya mahal,” ujar Mark Cancian, Penasihat Senior di CSIS.
Perang yang intens dibuka dengan menguras sebagian besar inventaris rudal utama Pentagon. Untuk mengatasi kekurangan ini, Trump mengaktifkan Undang-Undang Produksi Pertahanan guna mempercepat produksi senjata secara massal. Meski biaya harian perang menurun menjelang akhir, 100 jam pertama sudah menelan biaya US$3,7 miliar (Rp65,86 triliun), dan lembaga lain seperti Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Veteran menanggung kerugian sebesar US$1 miliar (Rp17,8 triliun).
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

