ZONAUTARA.com – Peningkatan ekosistem ekonomi digital Indonesia pada pertengahan tahun 2026 menunjukkan tren positif, terutama di sektor industri kreatif berbasis video pendek. Meski menjanjikan pendapatan signifikan melalui skema monetisasi dan kemitraan merek, industri nonformal ini menghadapi tantangan besar dalam hal stabilitas finansial.
Fluktuasi pendapatan bulanan menuntut para pelaku industri, terutama di daerah, memahami manajemen keuangan dengan baik demi keberlanjutan usaha di tengah persaingan pasar nasional yang ketat. Dibandingkan dengan kreator di kota besar, mereka di luar ibu kota menghadapi kompleksitas lebih tinggi. Kesenjangan Upah Minimum Regional (UMR) sering memicu bias dalam standar nilai kontrak (rate card) oleh agensi pusat. Pengelolaan modal untuk memperbarui alat penunjang visual menjadi kunci menjaga kualitas konten kompetitif.
Riswandi, kreator konten dari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, merasakan tantangan ini. Pemuda kelahiran 20 Maret 2000 ini mengatakan, “Jujur awalnya kaget banget, sampai sempat kalap beli ini-itu untuk self-reward. Tapi kemudian saya sadar bahwa penghasilan kreator itu naik-turun. Dari situ saya mulai disiplin memisahkan uang untuk kebutuhan hidup dan modal konten.”
Riswandi juga menekankan pentingnya posisi tawar kreator daerah saat berhadapan dengan mitra bisnis dari kota besar. “Banyak brand mengira kreator daerah bisa dibayar murah. Padahal yang dinilai adalah ide dan audiens, bukan UMR daerahnya. Jika anggaran mereka terbatas, saya lebih memilih memberikan bonus unggahan di IG Story daripada harus menurunkan harga standar,” tambahnya.
Langkah Riswandi mencerminkan transisi pengelolaan keuangan kreator daerah secara profesional. Harapannya, dengan manajemen yang tepat, industri kreatif digital tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi juga menjadi pilar ekonomi bagi generasi muda di seluruh pelosok Indonesia.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

