ZONAUTARA.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa, khususnya Prancis, telah mempengaruhi kebiasaan masyarakat setempat yang selama ini dikenal enggan menggunakan pendingin ruangan (AC). Di tengah peningkatan suhu yang signifikan, sejumlah warga mulai memilih memasang AC guna menjaga kenyamanan dan kesehatan keluarga mereka.
Prancis mencatat hari terpanas sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1947, yang membuat banyak orang harus bertahan menghadapi panas di tempat seperti apartemen, sekolah, hingga panti jompo yang tidak dirancang untuk kondisi cuaca ekstrem ini.
“Saya tidak dibesarkan dengan AC,” ujar Matthieu Ruquet, seorang warga berusia 35 tahun dari Nice. Namun, setelah suhu di apartemennya di pinggiran Paris mencapai 36 derajat Celcius, ia memutuskan untuk membeli AC portabel, meskipun ia khawatir pemasangan AC dapat membuat planet semakin panas.
Meskipun pandangan mayoritas masyarakat Prancis dalam survei baru-baru ini menunjukkan delapan dari 10 warga menganggap AC tidak ramah lingkungan, sejumlah ahli menilai dampak lingkungan AC di Prancis tidak sesederhana itu. Ahli Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), Francois Gemenne, menyebutkan penggunaan AC tidak menjadi masalah besar bagi lingkungan Prancis karena negara tersebut tidak bergantung banyak pada bahan bakar fosil, di mana 70% listrik berasal dari PLTN.
AC bukanlah solusi tunggal untuk perubahan iklim. Perencana kota Clement Gaillard menyebutkan hal utama adalah desain bangunan yang tidak siap menghadapi suhu yang semakin panas. Sementara itu, Vincent Viguie, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Lingkungan dan Pembangunan Internasional (CIRED), menambahkan bahwa AC bisa meningkatkan suhu lokal di kawasan padat urban karena membuang panas ke luar ruangan. Namun, upaya alternatif seperti memperbanyak ruang hijau dan renovasi bangunan juga terbatas efektivitasnya dalam simulasi gelombang panas ekstrem di wilayah Paris di masa depan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

