7 tahun bertaruh sabar di balik seragam Pol-PP perempuan Kotamobagu

Asiah Mokoginta, saat bertugas di Kantor Wali Kota Kotamobagu. (Foto: Zonautara.com/Trideyna).

ZONAUTARA.com– Seragam Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) selalu identik dengan ketegasan, penertiban, atau ketegangan di jalanan. Namun, di balik seragam yang dikenakan, kepada Zonautara.com Asiah Mokoginta asal Bilalang Dua, ini menceritakan bagaimana kesabaran penantian panjangnya kini berbuah manis.

Senin (29/6/2026), Asiah Mokoginta membagikan lembaran kisahnya. Setelah 7 tahun mengabdi sebagai Tenaga Harian Lepas (THL), Asiah akhirnya resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) pada Juni 2025.

Cerita Asiah bersama Satpol PP dimulai pada tahun 2016 silam. Sebelum memutuskan mendaftar sebagai personel Pol-PP perempuan, hari-hari Asiah diisi dengan bertani dan berdagang. Namun, rasa bosan berdiam diri di rumah mendorongnya untuk mengambil tantangan baru saat pemerintah membuka lowongan tenaga honorer.

“Saat itu dibutuhkan tenaga kerja honor. Waktu itu THL (gajinya) masih 800 ribu rupiah,” kenang Asiah, mengingat masa-masa awal ia bergabung.

Bekerja sebagai honorer di instansi penegak perda ternyata menuntut mental baja. Asiah menceritakan banyaknya lika-liku yang harus ia lalui. Salah satu ujian terberat adalah urusan isi dompet.

“Lain kali, tiga bulan tidak gajian,” ungkap.




Belum lagi ketika awal tahun tiba, sistem penerapan disiplin yang ketat diberlakukan. Surat Keputusan (SK) untuk bulan Januari dan Februari biasanya baru akan keluar dan diterima pada bulan Maret. Itu pun pembayarannya berkala, tidak langsung dirapel sekaligus untuk tiga bulan berturut-turut.

Namun, semua ketidakpastian itu ia hadapi dengan Sabar. Ketangguhan Asiah membuatnya sering ditempatkan di pos-pos krusial. Melalui sistem permintaan, Asiah bahkan sempat diperbantukan di kantor Kejaksaan selama dua tahun. Tugasnya tidak mudah menjaga situasi tetap kondusif saat gelombang demonstrasi kerap terjadi kala itu.

Namun, tantangan paling berat bagi Asiah bukanlah menghadapi demonstran, melainkan menghadapi stigma negatif dari masyarakat sendiri.

“Kendala tersulit itu waktu ketemu dengan masyarakat yang berpendapat Pol-PP itu tidak baik. Saya sering dihadapkan dengan situasi yang sulit,” tuturnya.

Ia teringat betul bagaimana ketegangan yang terjadi saat penertiban di pasar tahun lalu, atau malam-malam panjang saat ia harus ikut patroli mengamankan kawasan Ilongkow. Tempat tersebut sering dikeluhkan warga karena menjadi lokasi berkumpulnya muda-mudi hingga larut malam.

Di instansi yang didominasi oleh pria di mana saat ini hanya ada 15 personel perempuan berbanding 40 lebih personel laki-laki kehadiran Asiah dan rekan perempuannya dianggap krusial.

Asiah menjelaskan bahwa dalam setiap operasi lapangan, kehadiran Pol-PP perempuan adalah hal wajib, terutama jika berhadapan dengan pelanggar atau masyarakat berjenis kelamin perempuan.

“Kalau turun lapangan harus ada Pol-PP perempuan. Jika ada anak-anak muda yang perempuan, gunanya kami yang mendekati. Kalau personel lelaki, takutnya nanti ada kesalahpahaman saat menyampaikan,” jelas Asiah. Pendekatan persuasif dan humanis inilah yang menjadi pembeda.

Setelah melewati ketidakpastian selama 7 tahun dan resmi menyandang status P3K, ritme kerja Asiah mulai bergeser. Tugas-tugas lapangan yang menguras fisik kini mulai dikuranginya.

“Tetapi untuk tiga bulan ini saya sudah tidak turun lapangan lagi. Sekarang sudah menjaga dan standby di kantor Wali Kota,” ujarnya.

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com