ZONAUTARA.com – Antonio Rattín, kapten tim nasional Argentina, meninggal dunia pada usia 89 tahun. Rattín dikenal karena perannya yang kontroversial dalam pertandingan perempat final Piala Dunia 1966 melawan Inggris di Wembley, London, pada 23 Juli 1966. Dalam pertandingan tersebut, Rattín diusir dari lapangan oleh wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, setelah dianggap melakukan ‘kekerasan verbal’, meskipun kedua pria tersebut tidak mengerti satu sama lain.
Setelah diusir, Rattín berjalan lambat menuju terowongan lapangan, didampingi oleh dua polisi berseragam dan pelatih timnya. Kejadian ini menjadi momen bersejarah yang diingat oleh banyak penggemar sepakbola, dan memicu ketegangan antara Inggris dan Argentina. Rattín mengklaim bahwa ia meminta seorang penerjemah sebelum meninggalkan lapangan dan menyesali tindakan yang dilakukannya terhadap bendera Inggris pada saat itu.
Selama pertandingan, Inggris akhirnya menang dengan skor 1-0 dan melanjutkan perjalanan mereka ke semifinal melawan Portugal, serta final melawan Jerman Barat. Namun, insiden tersebut menandai awal dari hubungan yang semakin memburuk antara kedua negara, yang diperparah oleh berbagai kejadian di dunia sepakbola, termasuk gol ‘tangan Tuhan’ Diego Maradona di Piala Dunia 1986.
Rattín lahir pada 16 Mei 1937, sebagai anak seorang imigran Italia yang tiba di Argentina setelah Perang Dunia I. Dia memulai kariernya sebagai pemain bertahan sebelum berkembang menjadi gelandang bertahan yang tangguh, dan menjadi salah satu pemain kunci di Boca Juniors, klub sepakbola terkemuka di Buenos Aires. Selama kariernya, dia memenangkan lima kejuaraan nasional dan Copa Argentina, serta mengumpulkan 34 caps internasional untuk Argentina antara 1959 dan 1969.
Setelah pensiun dari sepakbola, Rattín beralih ke dunia pelatihan dan politik, di mana ia terpilih sebagai anggota dewan perwakilan rakyat Argentina pada tahun 2001. Pada tahun 2005, sebuah patung Rattín didirikan di stadion La Bombonera, yang menjadi bukti warisannya dalam dunia sepakbola. Momen pengusirannya yang kacau di tahun 1966 juga mendorong pengenalan sistem kartu kuning dan merah oleh pengawas wasit, Ken Aston, untuk menghindari kesalahpahaman dalam penegakan disiplin di lapangan.
Sumber: The Guardian

