ZONAUTARA.com – Perang Iran yang dimulai oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada akhir Februari berpotensi menjadi bencana politik bagi kepemimpinannya. Survei terbaru menunjukkan perang ini menjadi salah satu konflik militer paling tidak populer dalam sejarah modern AS. Dalam survei Washington Post-Ipsos yang dirilis pekan lalu, 68% warga Amerika Serikat menilai perang Iran tidak layak diperjuangkan, sementara hanya 28% yang menyatakan sebaliknya.
“Sebanyak 68% warga Amerika mengatakan perang Iran tidak layak diperjuangkan, sementara hanya 28% yang menilai perang tersebut layak dilakukan,” demikian menurut hasil survei itu yang dikutip pada Selasa (21/7/2026).
Kecepatan perubahan pandangan publik ini membebani Trump secara politis. Dalam sejarah konflik seperti perang Afghanistan, diperlukan waktu hingga hampir delapan tahun bagi mayoritas warga AS untuk menolak perang tersebut. Sedangkan untuk perang Irak, butuh sekitar satu tahun sebelum mayoritas publik berbalik arah. Perang Iran menunjukkan tingkat penolakan yang jauh lebih cepat.
Survei Washington Post-ABC News juga menyoroti bahwa dalam waktu kurang dari dua bulan setelah perang dimulai, 61% warga Amerika menilai perang Iran sebagai sebuah kesalahan. Sebagai perbandingan, mayoritas publik baru menganggap perang Irak sebagai kesalahan hampir empat tahun setelah invasi dimulai, sedangkan perang Vietnam membutuhkan lebih dari enam tahun untuk mencapai tingkat penolakan serupa.
Temuan dari Universitas Quinnipiac menunjukkan bahwa 45% pemilih terdaftar menilai perang ini membuat posisi AS lebih lemah di dunia, dibandingkan 33% yang merasa Amerika menjadi lebih kuat. Rendahnya dukungan awal juga tercermin dari analisis New York Times, dimana hanya 41% dalam survei CNN yang mendukung serangan terhadap Iran, angka terendah untuk dukungan awal operasi militer AS.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

