ZONAUTARA.com – Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan akan kembali membuka praktik dugaan mafia beras dalam waktu dekat. Amran menegaskan siap menghadapi segala risiko demi mengusut praktik yang merugikan petani dan masyarakat. Hal ini terungkap dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Amran mengungkapkan bahwa kasus mafia beras belum selesai dan akan ada babak baru yang dibuka. “Iya. Untuk itu nanti, bab berikutnya. Ini panjang. Aku kejar. Saya siap pertaruhkan segalanya demi petani, demi rakyat Indonesia yang 286 juta (orang). Kami, saya berpihak pada mereka,” ujar Amran.
Menjelang pengumuman ini, Amran mengacu pada temuan dugaan penyimpangan beras fortifikasi yang mengandung harga lebih tinggi dari yang seharusnya. Badan Pangan Nasional menemukan hanya tiga dari 15 merek beras fortifikasi yang memenuhi standar meskipun dijual antara Rp17.580 hingga Rp42.500 per kg.
Harga eceran tertinggi (HET) beras premium adalah Rp14.900 per kg, namun harga rata-rata beras fortifikasi yang melanggar kondisi mencapai Rp22.665 per kg. Dengan konsumsi beras premium nasional, kerugian masyarakat diperkirakan Rp71,9 triliun per tahun. Amran memastikan pemerintah akan mengumumkan nama produsen bermasalah dan mencabut izin usaha.
Koalisi Fortifikasi Indonesia mengkalkulasi biaya tambahan produksi beras fortifikasi sekitar Rp700-Rp1.000 per kg, sehingga harga jual seharusnya lebih rendah dibandingkan HET beras premium. Amran menyoroti ketimpangan harga beras di pasaran dan menuntut hukuman tegas bagi pelaku penyimpangan ini.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

