Tanah mengering, begini petani cabai Bitung bertahan

Petani cabai di Bitung, Sulawesi Utara, harus bertahan di tengah kemarau dan El Nino yang membuat lahan mengering serta pasokan air menipis.

Yaser Baginda
Penulis: Yaser Baginda
Editor: Redaktur
Lukman Mandak 36 tahun saat ditemui Zonautara di Kelurahan Sagerat Weru Dua, Kecamatan Matuari, Kota Bitung. (Foto: Zonautara.com/ Yaser Baginda).

ZONAUTARA.com – Matahari begitu terik menyinari kulit di Kota Bitung, Sulawesi Utara, Sabtu 8 Agustus 2026 siang. Di bawah langit yang membakar, Lukman Mandak 36 tahun tampak terlihat tenang memetik rica (cabai). Sesekali ia terlihat menyeka keringat yang muncul dari dahi.

“Sejak tiga bulan terakhir cuaca sangat panas. Bahkan, beberapa tanaman menguning dan mati,” beber Lukman saat ditemui Zonautara.com di Kelurahan Sagerat Weru Dua, Kecamatan Matuari.

Lukman mengaku, dirinya sebenarnya petani sayur kacang panjang. Namun, karena kondisi cuaca yang tak ramah, membuat ia mengurungkan niat bertanam lagi karena sempat gagal panen pada bulan Juni lalu.

“Waktu lalu saya tanam kacang panjang tiga tahap. Masa panen hanya sampai 2-3 kali, setelah itu tanaman menguning dan mati karena panas. Nah menunggu musim tanam lagi, untuk sementara ini bekerja sebagai buruh harian memetik cabe milik teman. Hasilnya berdasarkan timbangan. Per kilogram dihargai sebesar Rp10 ribu dan biasanya dalam sehari mendapat 14 sampai 15 kilogram,” kata Lukman.

Eks ketua Kelompok Tani Pemuda Sukses Bersama ini menjelaskan, di situasi saat banyak yang terdampak El Nino seperti sekarang, besaran penghasilan yang ia dapat, sudah membuat dirinya bersyukur, setidaknya ada untuk bertahan hidup sehari-hari.




“Mau harap apalagi di situasi ini. Minimal cukup untuk makan dan jajan anak di sekolah, saya sudah sangat bersyukur,” ucapnya.

Tanah mengering, begini petani cabai Bitung bertahan
Ahmad 34 tahun saat mempersiapkan air di bak penampungan. (Foto: Yaser Baginda/ Zonautara.com)

Cemas pohon cabai kering

Tidak jauh dari lokasi Lukman memetik cabai, wajah cemas Ahmad 34 tahun tak mampu disembunyikan. Ia beberapa kali bolak-balik untuk memastikan bak penampungan air yang terbuat dari terpal tak bocor.

Kecemasan gagal panen bukan lagi sekadar prediksi bagi Ahmad, melainkan kenyataan pahit yang harus ia telan.

Sambil memandangi bak tampungan air, Ahmad bercerita keadaan saat ini terlalu berat untuk petani. Separuh dari 1,5 hektar tanaman cabai miliknya rusak.

“Banyak yang terserang hama. Pertumbuhan jadi lambat dan buah cabai tidak maksimal. Sehingga butuh kerja ekstra dan jelas keluhan utama kami adalah kekurangan air,” kata Ahmad sambil merapikan selang air.

Ia mengaku dalam sehari harus menyiapkan tiga tangki air berukuran 1000 liter. Dalam prosesnya, cabai yang sedang berbuah pun, katanya, butuh perawatan. Pasokan air tetap harus terjaga.

“Proses penanaman cabai ini memang berbeda-beda perlakuan. Terlalu panas juga, berpotensi besar terserang hama. Apalagi di cuaca yang tak pernah hujan,” katanya.

Dari 1,5 hektar lahan cabai, Ahmad membeber, hanya fokus kepada tanaman cabai yang berbuah saja. Sisanya, yang ia menyerahkan sepenuhnya kepada kondisi alam.

“Kering kerontang seperti sekarang, saya fokus hanya kepada tanaman cabai yang sudah panen dan mempersiapkan produksi buah berikutnya. Hal itu karena untuk efisiensi waktu serta menyesuaikan dengan cuaca,” bebernya.

Tanah mengering, begini petani cabai Bitung bertahan
Maria Hutagalung seorang prakirawan cuaca di Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Bitung. (Foto: Yaser Baginda/ Zonautara.com).

Intensitas El Nino sangat kuat

Keluhan ladang petani mengering bukan hanya sekedar klaim berlebihan. Data BMKG di Stasion Meteorologi Kelas II Maritim Bitung menunjukan perubahan cuaca di wilayah kota ‘Cakalang’.

Maria Hutagalung seorang prakirawan cuaca (forecaster) di Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Bitung mengatakan, musim kemarau disertai dengan adanya fenomena El Nino membuat durasi kemarau jauh lebih kering dari pada biasanya.

Berdasarkan indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO), katanya, intensitas El Nino dalam kategori sangat kuat di Kota Bitung.

“Namun, dalam fenomena kemarau panjang bukan berarti tidak bakal terjadi hujan. Kalau penguapannya lagi tinggi, biasanya ada sesekali hujan,” katanya, Senin 10 Agustus 2026.

Disisi lain, Maria mengimbau agar masyarakat lebih peduli terhadap El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat. Terutama, untuk tidak membakar sampah dan lahan.

“Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Jadi, kalau tidak dijaga, aktivitas seperti membakar sampah pasti bisa menyebabkan kebakaran besar,” tegas Maria.

DKPP minta petani ubah pola tanam

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bitung tidak menampik adanya keresahan petani karena faktor cuaca yang panas dan kering.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Pertanian dan Perkebunan, Raymond Anthoni Ayal saat ditemui Zonautara.com.

Tanah mengering, begini petani cabai Bitung bertahan
Kepala Bidang Pertanian dan Perkebunan di DKPP, Raymond Anthoni Ayal. (Foto: Yaser Baginda/ Zonautara.com).

Menurut Raymond, antisipasi pemerintah sendiri hanya dalam bentuk sosialisasi kepada petani untuk merubah pola tanam di musim kemarau.

Perubahan pola tanam yang dimaksud Raymond yaitu, mengatur jenis tanaman dan waktu tanam agar penggunaan air lebih efisien.

Metode itu ia anggap penting saat musim kering seperti sekarang atau ketika ketersediaan air irigasi berkurang drastis.

“Tentunya ada keluhan-keluhan dari kelompok tani. Kami bersama dengan penyuluh sudah melakukan pendampingan kepada kelompok tani, tapi semuanya kembali ke patani juga, apakah mau atau tidak,” jelasnya.

Pun demikian, ia mengklaim ada pengurangan produksi pertanian dari tahun 2024 sampai 2026 ini.

Ditanya soal angka pasti pengurangan produksi, Raymond tak mampu membeber dan berjanji bakal mengirimkan data tersebut. Namun, hingga berita ini terbitkan upaya permintaan data belum juga ditanggapi Raymond.

Petani Butuh Air, Bukan Sosialisasi

Penderitaan Lukman dan Ahmad mendapatkan perhatian dari gedung ‘kerucut’ Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Anggota DPRD Bitung dari Komisi II, Syam Panai mengaku merasa prihatin dengan kondisi petani yang berpotensi gagal panen.




Sebagai anggota komisi yang bermitra, kata Syam, ia mendorong Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk melakukan intervensi secara cepat dan tempat.

“Kondisi ini perlu diurai oleh eksekutif. Jangan hanya sampai di sosialisasi, tanpa ada solusi yang efektif. Petani saat ini butuh air bukan sosialisasi,” tukasnya.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com